BudayaOpini

Prof. Yusmar Yusuf Tafsirkan “Menongkah Menyongsong Arus” sebagai Cermin Relasi Manusia dan Alam Pesisir Melayu

13
×

Prof. Yusmar Yusuf Tafsirkan “Menongkah Menyongsong Arus” sebagai Cermin Relasi Manusia dan Alam Pesisir Melayu

Sebarkan artikel ini

Pekanbaru, (LA) — Karya pertunjukan Menongkah Menyongsong Arus pada tanggal 14 & 15 September di Gedung Pertunjukan Anjung Seni Idrus Tintin, menghadirkan tafsir mendalam tentang hubungan manusia, alam, dan kebudayaan pesisir Melayu. Dalam pandangan Prof. Dr. Yusmar Yusuf, M.Psi pada malam pertama, karya ini tidak semata-mata berbicara tentang gerakan menghadapi arus, tetapi menjadi refleksi tentang bagaimana manusia bernegosiasi dengan ketidakpastian kehidupan.

Menurut Prof. Yusmar, konsep utama dalam karya tersebut berangkat dari pemaknaan kata “menongkah” yang memiliki akar kuat dalam budaya masyarakat pesisir. Menongkah bukan hanya berarti melawan arus, melainkan sebuah peristiwa ketika manusia harus membaca alam, memahami perubahan pasang surut, dan menentukan langkah untuk bertahan.

“Menongkah tidak sama dengan menyongsong. Menyongsong memiliki makna menyambut sesuatu yang datang, sementara menongkah adalah menghadapi sesuatu yang tidak pasti. Di dalamnya ada perjuangan, ada pertemuan dengan arus, dan ada proses membaca keadaan,” ungkap Prof. Yusmar dalam diskusi karya tersebut.

Ia menjelaskan bahwa dalam budaya Melayu, fenomena pasang surut memiliki makna yang lebih luas dibandingkan sekadar perubahan tinggi air laut. Terdapat tiga kondisi utama, yaitu high tide (pasang tinggi), low tide (surut), dan middle tide atau pasang perbani. Menurutnya, peristiwa menongkah hanya dapat terjadi pada kondisi tertentu, terutama ketika air surut, karena manusia harus berhadapan langsung dengan permukaan lumpur dan arus yang berubah.

“Pada pasang perbani, manusia tidak mengenal lagi kebutuhan untuk menongkah karena air hanya mengapung. Menongkah hadir ketika ada tantangan, ketika manusia harus bergerak menghadapi kondisi yang tidak mudah,” jelasnya.

Prof. Yusmar juga menyoroti perbedaan makna antara “menongkah” dan “menyongsong arus” dalam karya tersebut. Baginya, penggunaan istilah menyongsong dapat membuka ruang interpretasi baru, tetapi tetap perlu dipahami bahwa esensi menongkah memiliki karakter perjuangan yang lebih kompleks.

“Ketika kita menggunakan kata menyongsong, ada kesan menuju sesuatu yang lebih cerah di depan. Tetapi menongkah berbicara tentang keberanian menghadapi sesuatu yang belum pasti. Keduanya bertemu dalam karya ini sebagai bentuk dialog antara harapan dan tantangan,” ujarnya.

Dalam pandangannya, karya tersebut juga tidak perlu dipahami sebagai pertentangan antara budaya daratan dan pesisir. Unsur musik, gerak tari, serta simbol yang digunakan justru menyatukan berbagai pengalaman budaya menjadi satu narasi artistik.

Prof. Yusmar melihat keputusan artistik dalam karya tersebut sebagai bentuk “kejenuhan” yang disengaja. Kejenuhan tersebut bukan berarti kehilangan makna, tetapi menjadi cara untuk menghadirkan pengalaman batin kepada penonton.

“Gerakan yang berulang bukan berarti kosong. Kejenuhan menjadi bahasa tubuh untuk menyampaikan sesuatu yang tidak selalu dapat dijelaskan dengan kata-kata,” katanya.

Ia juga memberikan perhatian terhadap penggunaan musik dalam pertunjukan. Menurutnya, musik tidak harus selalu dibuat megah dan kolosal untuk memiliki kekuatan. Justru melalui kesederhanaan komposisi, musik dapat menjadi ruang yang mewakili konflik, ketegangan, dan perjalanan batin para penari.

Selain itu, Prof. Yusmar memberikan tafsir terhadap simbol topeng yang muncul dalam karya tersebut. Menurutnya, topeng bukan hanya benda artistik, tetapi dapat menjadi refleksi diri manusia.

“Topeng itu adalah diri kita sendiri. Kadang manusia menjadi topeng bagi dirinya, atau menghadapi topeng yang ia ciptakan sendiri. Pada akhirnya, perlawanan terbesar bukan terhadap orang lain, tetapi terhadap diri sendiri,” tuturnya.

Prof. Yusmar menegaskan bahwa istilah “melawan” tidak selalu memiliki makna negatif. Menurutnya, konstruksi bahasa sering kali membuat kata-kata tertentu kehilangan makna aslinya. Perlawanan dapat menjadi energi positif untuk berkembang dan bertahan hidup.

“Bangun malam untuk beribadah juga merupakan bentuk melawan. Melawan rasa malas, melawan kelemahan diri. Agresi pun demikian, dalam psikologi agresi adalah energi untuk bertahan hidup. Namun bahasa kekuasaan sering memberi makna negatif terhadap kata-kata tersebut,” jelasnya.

Melalui Menongkah Menyongsong Arus, Prof. Yusmar melihat sebuah pesan bahwa manusia tidak selalu harus menghindari arus kehidupan. Ada saatnya manusia mengikuti arus, tetapi ada pula saatnya manusia harus menongkah untuk menemukan jalannya sendiri.

Karya ini akhirnya tidak hanya menjadi pertunjukan seni, tetapi menjadi ruang refleksi tentang manusia Melayu yang hidup berdampingan dengan alam, menghadapi perubahan, dan terus mencari keseimbangan antara harapan dan kenyataan.

Penulis : Dewi S Darmayanti
Editor : Zalvandri Zainal (Matrock)

Tinggalkan Balasan