Pendidikan

Ki Hajar Dewantara: Bapak Pendidikan Nasional Indonesia

25
×

Ki Hajar Dewantara: Bapak Pendidikan Nasional Indonesia

Sebarkan artikel ini
ki hajar dewantara
foto : sibakul jogja

(LA) – Ki Hajar Dewantara, memiliki nama asli Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, lahir di Yogyakarta, 2 Mei 1889, Beliau meninggal pada tanggal 16 April 1959.

Ki Hajar Dewantara yang lahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, adalah salah satu tokoh terkemuka di Indonesia yang dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional. Ia adalah pendiri Taman Siswa, sebuah lembaga pendidikan yang berperan penting dalam perkembangan pendidikan di Indonesia selama masa penjajahan Belanda.

Sebagai bagian dari keluarga bangsawan, Ki Hajar Dewantara memperoleh pendidikan formal di sekolah-sekolah Belanda, yang pada saat itu hanya tersedia untuk kaum elit. Meski demikian, ia sangat kritis terhadap sistem pendidikan kolonial yang diskriminatif dan lebih memihak kepada penjajah daripada rakyat pribumi.

Kontribusi dalam Pendidikan

Pada tahun 1922, Ki Hajar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa di Yogyakarta. Sekolah ini didirikan sebagai respons terhadap sistem pendidikan kolonial yang menindas, dan bertujuan untuk memberikan pendidikan yang bebas dan merdeka bagi rakyat pribumi. Melalui Taman Siswa, Ki Hajar Dewantara memperkenalkan konsep pendidikan yang menekankan pada kebebasan belajar, kepribadian, serta pengembangan karakter bangsa.

Moto pendidikan yang sangat terkenal dari Ki Hajar Dewantara adalah:
1. “Ing Ngarsa Sung Tuladha” – Di depan, memberi contoh.
2. “Ing Madya Mangun Karsa” – Di tengah, memberi semangat.
3. “Tut Wuri Handayani” – Di belakang, memberi dorongan.

Moto ini menggambarkan filosofi pendidikan yang mendorong kemandirian belajar, di mana guru berperan sebagai pembimbing yang memberi contoh dan dorongan, bukan sebagai otoritas yang memaksa.

Karya

Ki Hajar Dewantara juga merupakan seorang penulis produktif, dengan karya-karya yang mempengaruhi pemikiran tentang pendidikan di Indonesia. Beberapa karya pentingnya meliputi:

1. “Als Ik Eens Nederlander Was” (Seandainya Aku Seorang Belanda) (1913):
Ini adalah salah satu tulisan paling terkenal dari Ki Hajar Dewantara, yang ia tulis ketika ia aktif dalam gerakan nasionalis. Dalam esai ini, ia mengkritik keras kebijakan kolonial Belanda, terutama mengenai perayaan Hari Kemerdekaan Belanda yang dianggap tidak pantas di tengah penderitaan rakyat Indonesia.

2. “Kebangunan Nasional Indonesia” (1934):
Buku ini membahas pentingnya kesadaran nasional dan pendidikan sebagai fondasi bagi kebangkitan bangsa Indonesia dari penjajahan.

3. “Pusara” (1947):
Kumpulan esai dan tulisan Ki Hajar Dewantara yang mencakup berbagai topik, termasuk pendidikan, kebudayaan, dan nasionalisme.

4. “Bagian Karya Pendidikan” (1950):
Buku ini berisi pemikiran Ki Hajar Dewantara mengenai pendidikan, yang kemudian menjadi landasan filosofi pendidikan Indonesia pasca-kemerdekaan.

Pengaruh dan Warisan

Ki Hajar Dewantara diakui sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia, dan hari lahirnya, 2 Mei, diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional di Indonesia. Filosofi dan metode pendidikannya yang menekankan pada kebebasan belajar dan pengembangan karakter bangsa terus menjadi fondasi bagi sistem pendidikan di Indonesia.

Ia juga dihormati sebagai pahlawan nasional atas kontribusinya dalam memperjuangkan pendidikan yang merdeka dan inklusif bagi semua lapisan masyarakat Indonesia.

Hingga saat ini, konsep “Tut Wuri Handayani” masih menjadi moto dalam sistem pendidikan di Indonesia, menunjukkan pengaruh abadi dari pemikiran Ki Hajar Dewantara.

Sumber:
1. Soemardjan, Selo. Ki Hajar Dewantara: Bapak Pendidikan Nasional. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1986.
2. Soedjatmoko, R. M. A. Pemikiran dan Perjuangan Ki Hajar Dewantara. Jakarta: Balai Pustaka, 1982.
3. Nugroho, R. Ki Hajar Dewantara dan Revolusi Pendidikan. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1990.
4. Hadi, S. Filosofi Pendidikan Nasional: Konsep dan Gagasan Ki Hajar Dewantara. Yogyakarta: Taman Siswa, 2003.

Tinggalkan Balasan