PROBOLINGGO (LA) – Suasana magis menyelimuti kawasan Pegunungan Bromo pada akhir pekan ini. Di tengah suhu udara yang mencapai belasan derajat Celsius, alunan musik jazz mengalir hangat, berpadu dengan semilir angin pegunungan dan panorama alam yang menakjubkan. Jazz Gunung Bromo resmi digelar pada akhir Juli di Amfiteater Jiwa Jawa Resort Bromo, Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.
Memasuki penyelenggaraan yang ke-18 kalinya, festival yang digagas oleh Jazz Gunung Indonesia ini telah berkembang jauh melampaui sekadar konser musik. Ini menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan seni, budaya, pariwisata, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah dalam satu ekosistem yang saling menguntungkan.
Panggung Kolaborasi Lintas Generasi dan Negara
Festival dengan tema “Jazztination” ini menghadirkan deretan musisi papan tanah air dan mancanegara. Pada hari pertama, penampilan Isyana Sarasvati sukses menghangatkan ribuan “jemaah Al-Jazziyah” yang memadati amfiteater. Penyanyi dengan karakter vokal kuat ini membawakan sejumlah lagu andalan, termasuk “Tetap Dalam Jiwa” yang menjadi momen paling berkesan bagi penonton.
Hari pertama juga dimeriahkan oleh Bilal Indrajaya, Bromo Jazz Camp, Plutato featuring Cait Lin dari Taiwan, Batavia Collective, serta Ring of Fire Project yang berkolaborasi dengan musisi Italia Simone Prattico dan Sri Hanuraga. Sementara pada hari kedua, panggung akan diisi oleh Ali, Kevin Yosua Big 6 featuring Nesia Ardi, Littlefingers, Watchdog dari Prancis, dan ditutup dengan penampilan spesial Indra Lesmana LLW bersama Eva Celia dan Teza Sumendra.
Lebih dari Sekadar Musik: Dampak Ekonomi dan Pariwisata
Bupati Probolinggo Mohammad Haris menyatakan bahwa Jazz Gunung Bromo menjadi panggung promosi wisata unggulan Kabupaten Probolinggo sekaligus bagian dari penguatan branding “Probolinggo Paradise”. Festival ini tidak hanya menghadirkan pertunjukan musik kelas dunia, tetapi juga mendorong pemberdayaan pelaku UMKM, komunitas lokal, dan sektor pariwisata.
“Tidak banyak even di tempat yang luar biasa seperti ini yang betul-betul berkelas dan menyajikan sesuatu yang berbeda di cuaca yang sejuk. Ini sangat luar biasa,” ujar Haris.
Sigit Pramono, Founder Jazz Gunung Indonesia, menegaskan bahwa festival ini telah menjadi penggerak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Sektor yang paling merasakan dampak adalah usaha homestay milik warga Tengger yang selalu penuh selama festival berlangsung.
“Tetesan ekonominya bisa ke mana-mana. Homestay sekitar yang paling dapat dampak ekonominya. Penuh semua,” ujar Sigit dalam jumpa pers.
Selain penginapan, layanan transportasi menggunakan shuttle milik masyarakat Tengger dan keterlibatan pelaku UMKM lokal dalam bazar kuliner, kopi, kerajinan tangan, hingga produk fesyen turut menjadi bagian dari ekosistem festival.
Komitmen Berkelanjutan
Setelah meraih penghargaan Green Event of The Year pada Wonderful Indonesia Award, Jazz Gunung Bromo kembali menerapkan konsep ramah lingkungan. Penyelenggara menyediakan stasiun isi ulang air minum, menggunakan dekorasi berbahan bambu dan material daur ulang, serta melibatkan masyarakat sekitar dalam operasional festival.
Festival ini juga diharapkan mendorong wisatawan untuk menjelajahi destinasi lain di sekitar kawasan Bromo, seperti Desa Wisata Edelweiss Wonokitri, Coban Trisula, hingga arung jeram di Sungai Pekalen.
Dengan memadukan musik, panorama alam, budaya lokal, dan praktik berkelanjutan, Jazz Gunung Bromo semakin memperkuat posisi Bromo sebagai destinasi wisata unggulan Indonesia sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif di Jawa Timur.
Editor: Zen














