Sebatik, Nunukan, Kaltara(L.A)Persoalan air bersih dan listrik di Pulau Sebatik masih menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan secara tuntas. Keluhan masyarakat bukan sekadar kritik, melainkan cerminan kebutuhan dasar yang mendesak untuk segera ditangani secara terukur dan berkelanjutan.
Di sektor air bersih, keterbatasan embung dan fasilitas penampungan air hujan membuat masyarakat harus beradaptasi dengan kondisi yang tidak menentu. Upaya pengeboran sumur yang telah dilakukan warga hingga kedalaman puluhan meter pun belum memberikan hasil optimal.
Kondisi geografis yang kompleks, bahkan ditemukannya kandungan minyak di beberapa titik, menunjukkan bahwa pendekatan teknis yang lebih komprehensif sangat diperlukan.
Salah satu warga Sebatik, Rahman, mengungkapkan bahwa kebutuhan air bersih sering kali menjadi persoalan harian.
“Kami sangat berharap ada penambahan embung atau bantuan penampungan air. Kalau musim kemarau, air benar-benar sulit. Sumur juga tidak bisa diandalkan,” ujarnya.
Sementara itu, persoalan listrik yang kerap padam juga membutuhkan perhatian serius. Ketidakstabilan pasokan tidak hanya menghambat aktivitas rumah tangga, tetapi juga memukul sektor usaha kecil yang menjadi tulang punggung ekonomi lokal.
Seorang pelaku usaha kecil, Siti, menyampaikan bahwa pemadaman listrik sangat berdampak pada penghasilannya.
“Kalau listrik padam, usaha kami ikut berhenti. Barang dagangan bisa rusak, pelanggan juga berkurang. Kami butuh listrik yang stabil supaya bisa bekerja dengan tenang,” katanya.
Di sektor kesehatan, keterbatasan fasilitas dan minimnya dukungan teknologi medis membuat masyarakat harus dirujuk ke luar daerah untuk mendapatkan layanan lanjutan. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada biaya, tetapi juga pada keselamatan pasien.
Warga lainnya, Ahmad, menyoroti pentingnya peningkatan fasilitas kesehatan di Sebatik.
“Kalau sakit serius, kami harus ke luar daerah. Itu butuh biaya besar dan waktu lama. Kami berharap rumah sakit di sini bisa lebih lengkap, jadi tidak perlu jauh-jauh lagi,” tuturnya.
Dalam konteks solusi, pemerintah daerah dan provinsi diharapkan dapat menyusun peta kebutuhan berbasis kajian ilmiah dan kondisi riil di lapangan. Pembangunan embung baru perlu diiringi dengan sistem distribusi air yang efisien, serta pemanfaatan teknologi pengolahan air bersih skala kecil.
Program penampungan air hujan berbasis rumah tangga juga dapat diperluas.
Untuk sektor listrik, perbaikan jaringan distribusi dan peningkatan kapasitas pembangkit menjadi langkah penting dalam jangka pendek. Sedangkan untuk jangka panjang, pengembangan energi alternatif seperti tenaga surya dapat menjadi solusi strategis.
Sementara itu, di bidang kesehatan, peningkatan fasilitas dan pengadaan alat medis modern secara bertahap sangat diperlukan. Penguatan sistem rujukan berbasis digital juga menjadi langkah penting agar pelayanan kesehatan lebih cepat dan terintegrasi.
Lebih jauh, persoalan yang terjadi di Sebatik bukan semata isu pelayanan publik, tetapi juga menyangkut wajah negara di wilayah perbatasan. Kehadiran infrastruktur dasar yang layak menjadi simbol kehadiran negara sekaligus bentuk perlindungan terhadap warganya.
Literasi Aktual akan terus melakukan penelusuran dan konfirmasi kepada pihak terkait guna memastikan aspirasi masyarakat dapat ditindaklanjuti secara konkret.
Harapannya, langkah-langkah perbaikan dapat segera diwujudkan, sehingga masyarakat Sebatik dapat merasakan pelayanan dasar yang layak sebagai bagian dari kedaulatan dan keadilan pembangunan di wilayah perbatasan.***
Penulis: Teguh.S.H













