Berau,Kaltim(L.A) — Semarak tradisi Mandi Laut Tolak Bala kembali akan mewarnai kawasan pesisir Berau pada Minggu pagi (26/07/26)
Masyarakat Bajau di sejumlah wilayah pesisir utara dan selatan Berau akan melaksanakan kegiatan adat yang menjadi bagian dari warisan budaya dan kearifan lokal masyarakat pesisir.
Tradisi yang dilaksanakan secara rutin setiap tahun ini menjadi momentum bagi masyarakat untuk berkumpul, menjaga silaturahmi serta melestarikan adat istiadat yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Kegiatan Mandi Laut Tolak Bala atau mandi sadar juga menjadi salah satu gambaran kuatnya hubungan masyarakat Bajau dengan laut. Bagi masyarakat pesisir, laut bukan hanya menjadi sumber kehidupan dan tempat mencari penghidupan, tetapi juga memiliki nilai budaya dan sejarah yang melekat dalam kehidupan masyarakat.
Semarak kegiatan ini akan berlangsung di sejumlah kawasan pesisir dan kepulauan Berau, termasuk wilayah Tanjung Batu, Kasai, Pulau Derawan, Maratua, Batu Putih, Talisayan hingga Pulau Balikukup.
Pelaksanaan tradisi di setiap wilayah dapat memiliki bentuk dan rangkaian adat yang berbeda sesuai dengan kebiasaan masyarakat setempat, adapun lokasi pelaksannya sering di adakan di Gusung pasir atau pulau pasir di setiap kampung pesisir.
Khusus di kawasan Pulau Derawan dan Maratua, tradisi dan semarak kegiatan masyarakat Bajau juga kerap menarik perhatian wisatawan yang berkunjung.
Para turis tidak hanya datang menikmati keindahan laut dan pulau, tetapi juga berkesempatan menyaksikan langsung kekayaan budaya masyarakat pesisir yang menjadi bagian dari identitas Berau.
Mandi Laut Tolak Bala menjadi salah satu potensi yang dapat memperkuat pengembangan pariwisata berbasis budaya dan kearifan lokal. Wisatawan dapat mengenal lebih dekat kehidupan masyarakat Bajau, tradisi leluhur, serta hubungan masyarakat dengan laut yang telah berlangsung dari generasi ke generasi.
Namun, tradisi ini tetap harus ditempatkan sebagai bagian dari warisan budaya masyarakat yang memiliki nilai adat dan makna tersendiri. Pengembangan menjadi daya tarik wisata hendaknya dilakukan dengan tetap menghormati nilai-nilai budaya serta melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama.
Karena itu, kegiatan rutin tahunan seperti Mandi Laut Tolak Bala dinilai layak mendapat perhatian dan dukungan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Berau.
Dukungan tersebut dapat dilakukan melalui dokumentasi, promosi budaya, penguatan masyarakat adat, serta pengembangan kalender kegiatan budaya yang dapat menjadi bagian dari agenda pariwisata Berau.
Dengan dukungan yang tepat, tradisi masyarakat Bajau tidak hanya menjadi kegiatan tahunan yang dinikmati masyarakat setempat, tetapi juga dapat menjadi salah satu kekuatan wisata budaya Berau.
Berau selama ini dikenal dengan keindahan Pulau Derawan, Maratua dan kekayaan lautnya. Namun, di balik keindahan tersebut terdapat warisan budaya dan kearifan lokal yang tidak kalah menarik untuk diperkenalkan.
Mandi Laut Tolak Bala menjadi salah satu cermin bahwa kekuatan pariwisata Berau bukan hanya terletak pada keindahan alam, tetapi juga pada budaya, adat istiadat dan kehidupan masyarakat pesisir yang menjadi bagian dari identitas daerah.
Kegiatan ini diharapkan menjadi momentum untuk semakin mengenalkan keberagaman budaya masyarakat Bajau kepada generasi muda dan masyarakat luas.
Warga lokal berharap nilai tradisi tersebut dapat terus dilestarikan dan menjadi bagian penting dari identitas budaya Berau di tengah perkembangan pariwisata yang semakin pesat.***












