Berita

2 Embung Raksasa Mangkrak, Masyarakat Maratua Pertanyakan Nasib Proyek Puluhan Miliar

Avatar
19
×

2 Embung Raksasa Mangkrak, Masyarakat Maratua Pertanyakan Nasib Proyek Puluhan Miliar

Sebarkan artikel ini

Maratua,Berau (L.A)– Di tengah krisis air bersih yang kembali melanda Pulau Maratua setiap musim kemarau, masyarakat mempertanyakan keberadaan dua embung raksasa yang dibangun dengan anggaran besar namun hingga kini belum mampu memberikan manfaat sebagaimana tujuan pembangunannya.

Embung tersebut berada di Kampung Payung-Payung dan Kampung Teluk Alulu. Embung di Kampung Payung-Payung dibangun menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Berau, sedangkan embung di Kampung Teluk Alulu dibangun melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) dari salah satu perusahaan pelayaran yang bergerak di bidang jasa angkutan laut dan logistik.

Hingga Agustus 2026, kedua embung tersebut masih belum dapat dimanfaatkan secara optimal untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat.
Embung di Kampung Payung-Payung bahkan disebut telah mangkrak selama kurang lebih dua tahun.Berdasarkan pantauan di lapangan, pembangunan proyek tersebut belum rampung namun hingga saat ini pekerjaan tidak dilanjutkan.

Sementara hingga kini belum ada kejelasan mengenai kelanjutan pembangunannya.
Berbeda dengan embung di Payung-Payung, embung di Kampung Teluk Alulu memang telah selesai

Padahal, kedua embung tersebut dibangun sebagai solusi untuk menampung air hujan yang kemudian dapat dimanfaatkan sebagai cadangan air bersih saat musim kemarau melanda Pulau Maratua.

Ironisnya, hingga saat ini masyarakat Maratua masih menghadapi persoalan serius terkait ketersediaan air bersih. Dari empat kampung yang ada di Pulau Maratua, hanya Kampung Teluk Harapan yang memiliki sumber mata air alami. Sementara masyarakat di Kampung Payung-Payung, Teluk Alulu, dan Bohe Silian masih harus membeli air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Harga air pun tidak murah. Untuk satu tandon berkapasitas sekitar 1.500 liter, warga harus mengeluarkan biaya antara Rp120.000 hingga Rp150.000, tergantung lokasi dan biaya distribusi.

Seorang tokoh masyarakat Maratua mengatakan, kondisi tersebut membuat warga kecewa karena proyek yang diharapkan menjadi solusi atas persoalan air bersih justru belum memberikan manfaat nyata.

“Setiap musim kemarau masyarakat tetap kesulitan mendapatkan air bersih. Yang satu embung belum selesai dibangun, sedangkan yang satunya lagi belum berfungsi sebagaimana mestinya. Padahal anggaran yang digunakan tidak sedikit. Wajar kalau kita mempertanyakan proyek ini, bahkan ada yang menyebutnya sebagai proyek gagal karena manfaatnya belum dirasakan,” ujarnya, Sabtu (1/8/2026).

Masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Berau bersama pihak-pihak terkait segera memberikan kepastian terhadap kelanjutan pembangunan embung di Kampung Payung-Payung yang telah mangkrak sekitar dua tahun.
Selain itu, warga juga meminta dilakukan evaluasi dan audit teknis terhadap embung di Kampung Teluk Alulu dan payung-payung

Bagi masyarakat Pulau Maratua, keberadaan embung bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan kebutuhan mendesak untuk mengatasi krisis air bersih yang hampir setiap tahun terjadi saat musim kemarau.

Karena itu, warga berharap kedua embung tersebut segera diselesaikan dan difungsikan sesuai tujuan pembangunannya agar anggaran yang telah dikucurkan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.***

 

Tinggalkan Balasan