SIAK, (LA) — Penetapan Syair Perang Siak sebagai Ingatan Kolektif Nasional (IKON) 2026 diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat pelestarian naskah kuno melalui penelitian, pendidikan, penerjemahan, dan pengembangan media digital. Pemerintah Kabupaten Siak didorong untuk memperluas pemanfaatan warisan sastra Melayu tersebut agar semakin dikenal dan dipahami masyarakat, khususnya generasi muda.
Dorongan itu disampaikan Deputi I Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpustakaan Nasional RI, Suharyanto, dalam seminar penganugerahan Syair Perang Siak sebagai IKON 2026 yang diselenggarakan secara virtual, Senin (19/10/2026).
Menurut Suharyanto, pengakuan sebagai Ingatan Kolektif Nasional perlu diikuti langkah nyata agar naskah bersejarah tersebut tidak hanya tersimpan sebagai arsip, tetapi juga dapat dipelajari dan diakses oleh masyarakat luas.
Ia menyebut sejumlah upaya yang dapat dilakukan, antara lain penelitian, transliterasi, penerjemahan, serta pengembangan naskah ke dalam bentuk yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat masa kini.
“Upaya yang dapat dilakukan antara lain melalui penelitian, transliterasi, penerjemahan, dan alih wahana ke dalam bentuk buku bacaan anak-anak atau komik,” kata Suharyanto.
Ia berharap kerja sama antara Perpustakaan Nasional dan Pemerintah Kabupaten Siak dapat terus diperkuat untuk memperluas akses sekaligus meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap kandungan sejarah dan sastra dalam Syair Perang Siak.
Bupati Siak, Afni Zulkifli, mengatakan naskah tersebut memiliki nilai penting dalam memperkenalkan sejarah dan kekayaan sastra Melayu kepada generasi penerus. Melalui kajian terhadap Syair Perang Siak, masyarakat dapat memahami peristiwa masa lalu sekaligus mengenali cara masyarakat pada zamannya merekam pengalaman melalui karya sastra.
“Bagi kami, Syair Perang Siak memiliki arti yang sangat mendalam. Melalui karya ini, kita dapat mempelajari sejarah, memahami cara masyarakat pada zamannya menyampaikan pengalaman, serta mengenal kekayaan bahasa dan sastra Melayu,” ujar Afni.
Ia menambahkan, naskah kuno merupakan peninggalan tertulis yang menyimpan jejak pemikiran dan pengalaman generasi terdahulu. Oleh karena itu, keberadaannya perlu dijaga melalui pembacaan, penelitian, dan penyebarluasan pengetahuan agar tetap relevan bagi masyarakat masa kini.
Afni berharap penganugerahan IKON 2026 dapat menjadi landasan untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah daerah dan Perpustakaan Nasional dalam melestarikan serta mengembangkan pemanfaatan Syair Perang Siak.
“Momentum penganugerahan IKON membawa pesan bahwa pelestarian naskah merupakan tanggung jawab kita bersama. Kami berharap kerja sama antara Perpustakaan Nasional dan Pemkab Siak dapat berlanjut dan berkembang,” katanya.
Pelestarian Perlu Melampaui Kegiatan Seremonial
Filolog Riau sekaligus dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Lancang Kuning, Lik Idayanti, M.Hum., mengingatkan bahwa pengakuan sebagai IKON belum menjamin keberlanjutan pelestarian Syair Perang Siak. Menurutnya, keberhasilan pelestarian ditentukan oleh sejauh mana naskah tersebut terus dibaca, diteliti, diajarkan, dan diperkenalkan kepada masyarakat.
“Syair Perang Siak sudah menjadi IKON, tetapi pertanyaan sederhananya, apakah tugas kita sudah selesai? Sertifikat sudah diterima, foto sudah dibuat, dan seminar sudah dilaksanakan,” ujar Lik Idayanti.
Ia menilai, pengakuan tersebut harus ditindaklanjuti dengan program yang memberikan manfaat nyata. Sejumlah langkah yang dapat dilakukan meliputi penyusunan bahan ajar, pengembangan penelitian, penyelenggaraan pameran digital, serta pendokumentasian sumber-sumber sejarah yang berkaitan dengan naskah tersebut.
Menurut Lik, pengembangan berbagai kegiatan itu dapat membuka ruang bagi masyarakat untuk mengenal Syair Perang Siak tidak hanya sebagai peninggalan sejarah, tetapi juga sebagai sumber pembelajaran bahasa, sastra, dan kebudayaan Melayu.
“Karena itu, kita harus bertanya, apa yang berubah setelah IKON? Kita perlu bergerak ke bidang pendidikan, penelitian, pameran digital, dokumentasi sumber sejarah, dan kegiatan budaya berbasis teks,” katanya.
Lik juga mendukung pengenalan Syair Perang Siak melalui Festival Siak Bermadah. Menurutnya, kegiatan tersebut dapat menjadi wadah bagi pelajar dan masyarakat umum untuk mempelajari sekaligus menampilkan kekayaan bahasa dan sastra Melayu.
Ia menyambut positif informasi mengenai rencana pengenalan Syair Perang Siak dalam festival budaya di Siak. Kegiatan semacam itu, menurutnya, dapat menjadi salah satu cara untuk mendekatkan warisan sastra daerah kepada generasi muda.
“Saya ingat beberapa hari yang lalu, ada mahasiswa saya dari Siak, dia kasi info ke saya, bahwa akan ada festival budaya di Siak, salah satu agendanya memperkenalkan Syair Perang Siak. Ini luar biasa, sangat tepat dilakukan hal seperti ini,” pungkasnya.
Penetapan Syair Perang Siak sebagai IKON 2026 menjadi momentum bagi berbagai pihak untuk memperkuat upaya pelestarian warisan tertulis daerah. Melalui kolaborasi pemerintah, lembaga perpustakaan, akademisi, dan komunitas budaya, naskah tersebut diharapkan terus dikaji, diperkenalkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.














