Berau — Proyek rehabilitasi berat Dermaga Sidayang di Kampung Tanjung Batu, Kecamatan Pulau Derawan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, kembali menjadi sorotan publik. Hingga memasuki Mei 2026, kondisi fisik jembatan dermaga dilaporkan masih belum menunjukkan perubahan signifikan dan dinilai memprihatinkan oleh masyarakat setempat.
Dermaga Sidayang sendiri merupakan pelabuhan sandar speed boat yang memiliki peran vital dalam mendukung mobilitas masyarakat serta wisatawan lokal maupun mancanegara. Dermaga ini menjadi akses utama transportasi laut dari Tanjung Batu menuju Pulau Derawan, Pulau Maratua, maupun rute sebaliknya, sehingga keberadaannya sangat strategis bagi aktivitas ekonomi dan sektor pariwisata di wilayah tersebut.
Warga menyebutkan bahwa kondisi jembatan masih seperti yang terlihat sebelumnya, dengan struktur yang belum mengalami pembaruan menyeluruh. Padahal proyek ini diketahui memiliki anggaran sekitar Rp6,8 miliar dan telah dikontrak sejak 17 Juli 2025.
Sorotan utama tetap tertuju pada dugaan tidak dilakukannya penggantian tiang pancang sebagai struktur utama penopang dermaga. Masyarakat mempertanyakan kualitas pekerjaan yang dikategorikan sebagai rehabilitasi berat, namun di lapangan hanya terlihat pekerjaan pada bagian tertentu, seperti pembongkaran bangunan lama dan pengerjaan pondasi.
“Kalau dilihat sekarang, kondisinya masih sama saja. Tidak ada perubahan signifikan, padahal anggarannya besar,” ujar salah satu warga Tanjung Batu.
Proyek ini dikerjakan oleh CV Mandiri dengan konsultan pengawas Pandel 95 Engineering, di bawah pengawasan Dinas Perhubungan Kabupaten Berau. Dari hasil konfirmasi sebelumnya, pihak dinas menyatakan bahwa tiang pancang tidak diganti karena masih dinilai kuat berdasarkan hasil investigasi teknis.
Namun, pernyataan tersebut justru memunculkan pertanyaan lanjutan dari masyarakat, terutama terkait transparansi perencanaan anggaran dan kesesuaian antara dokumen proyek dengan realisasi di lapangan.
Tokoh masyarakat setempat mendesak agar Dinas Perhubungan Kabupaten Berau melakukan evaluasi menyeluruh terhadap progres pekerjaan, termasuk membuka informasi detail terkait spesifikasi teknis dan penggunaan anggaran.
“Ini fasilitas publik yang setiap hari digunakan masyarakat dan wisatawan. Dermaga ini jalur utama ke Derawan dan Maratua. Jangan sampai pengerjaan setengah setengah justru membahayakan,” tegas salah satu tokoh masyarakat.
Selain itu, masyarakat juga meminta adanya pengawasan dari pihak berwenang untuk memastikan tidak terjadi penyimpangan dalam pelaksanaan proyek. Mereka berharap pemerintah daerah dapat segera mengambil langkah tegas agar proyek tersebut diselesaikan sesuai standar dan memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada penjelasan lanjutan dari pihak kontraktor maupun konsultan pengawas terkait lambatnya progres pekerjaan di lapangan.
Kondisi ini semakin memperkuat desakan publik agar dilakukan pendalaman terhadap proyek rehabilitasi Dermaga Sidayang, mengingat perannya yang sangat penting sebagai penghubung utama kawasan wisata unggulan di Kabupaten Berau.














