Tanjung Selor, Kaltara (L.A) — Kabar duka datang dari keluarga besar Kesultanan Bulungan. Raja Muda Kesultanan Bulungan, Drs. H. Datu Dissan Hasanuddin Maulana Wafat pada Jumat, 2 Oktober 2026 di kota Tarakan
Kepergian Datu Dissan menjadi kehilangan bagi keluarga besar Kesultanan Bulungan dan masyarakat Kalimantan Utara. Semasa hidupnya, almarhum dikenal sebagai salah satu tokoh yang aktif menjaga sejarah, adat, arsip, dan warisan budaya Kesultanan Bulungan.
Datu Dissan merupakan putra Sultan Maulana Muhammad Djalaluddin dan Djubaidah yang bergelar Aji Ratu. Sebagai bagian dari keluarga Kesultanan Bulungan, ia mewarisi pengetahuan mengenai sejarah dan kebudayaan yang kemudian turut didokumentasikan dan disampaikan kepada masyarakat.
Almarhum dikenal sebagai salah satu penjaga arsip dan dokumentasi sejarah keluarga Kesultanan Bulungan. Ia juga menjadi narasumber dalam berbagai kajian mengenai sejarah, adat, bahasa, dan tradisi masyarakat Bulungan.
Keterlibatannya dalam pelestarian budaya tercatat dalam Katalog Warisan Budaya Takbenda Indonesia 2018 yang berkaitan dengan tradisi Biduk Bebandung.
Selain berkecimpung dalam bidang sejarah dan kebudayaan, Datu Dissan pernah dipercaya dalam sejumlah posisi dan organisasi.Di antaranya sebagai Tim Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TGUPP) bidang Seni dan Budaya, Tim Ahli Gubernur, Ketua Umum Himpunan Keluarga Besar Bulungan (HKBB) Kota Tarakan, Ketua Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Kota Tarakan, serta anggota Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN).
Salah satu jejak penting almarhum dalam pelestarian sejarah Kesultanan Bulungan adalah keterlibatannya sebagai kuasa ahli waris Sultan Maulana Muhammad Djalaluddin dalam proses hibah lahan bekas kompleks Istana II Kesultanan Bulungan kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara.
Lahan tersebut diserahkan untuk kepentingan pelestarian dan pembangunan kembali kawasan Kesultanan Bulungan. Kawasan tersebut kemudian menjadi bagian dari upaya revitalisasi sebagai pusat sejarah, budaya, dan pariwisata Kalimantan Utara.
Datu Dissan juga terlibat dalam pendokumentasian bahasa dan kebudayaan Bulungan. Ia menjadi narasumber dalam pengumpulan informasi mengenai bahasa Bulungan dan Tidung, termasuk adat istiadat, rumah adat, tradisi, dan kebudayaan masyarakat.
Dalam catatan sejarah keluarga Kesultanan Bulungan, garis keturunan Datu Dissan memiliki keterkaitan dengan perjalanan sejarah Bulungan, Tidung, Berau, Brunei, Sulu, dan Dayak Kayan. Jejak tersebut menggambarkan hubungan antarkelompok masyarakat dan lingkungan bangsawan yang berkembang dalam sejarah kawasan Kalimantan.
Setelah berpulang, jenazah Datu Dissan direncanakan diberangkatkan dari Tarakan menuju Tanjung Palas pada Sabtu pagi, 3 Oktober 2026.
Jenazah akan dimakamkan di belakang Masjid Sultan Kasimuddin, Tanjung Palas, di kawasan makam keluarga Kesultanan Bulungan. Di tempat tersebut juga dimakamkan ayahandanya, Sultan Maulana Muhammad Djalaluddin, bersama sejumlah Sultan Bulungan lainnya.
Bagi keluarga dan masyarakat yang mengenal kiprahnya, Datu Dissan meninggalkan sejumlah catatan penting dalam pelestarian sejarah dan kebudayaan Bulungan. Arsip, pengetahuan sejarah, dokumentasi budaya, serta keterlibatannya dalam pelestarian kawasan Kesultanan Bulungan menjadi bagian dari jejak yang ditinggalkannya.***














