Berita

Bertahun-tahun Masyarakat Tanjung Batu Beli Air dan Tampung Air Hujan,Warga Pertanyakan Wacana  Pengairan Air PDAM dari Kampung Merancang ke Tanjung Batu

Avatar
5
×

Bertahun-tahun Masyarakat Tanjung Batu Beli Air dan Tampung Air Hujan,Warga Pertanyakan Wacana  Pengairan Air PDAM dari Kampung Merancang ke Tanjung Batu

Sebarkan artikel ini

Tanjung Batu , Berau, Kaltim (L.A) — Ketersediaan air bersih masih menjadi persoalan mendasar bagi masyarakat Kampung Tanjung Batu, Kecamatan Pulau Derawan, Bertahun-tahun, warga harus membeli air dari penyedia atau menampung air hujan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sehari-hari.Rabu(30/09/26)

Persoalan tersebut kembali disuarakan sejumlah warga dan tokoh masyarakat Tanjung Batu. Mereka menyoroti rencana pengairan dari Kampung Merancang menuju Tanjung Batu melalui jaringan perpipaan yang pernah disampaikan pemerintah beberapa tahun lalu.

Namun hingga 2026, rencana tersebut belum terealisasi di lapangan. Di sisi lain, kebutuhan air bersih terus berlangsung setiap hari dan menjadi persoalan yang harus dihadapi masyarakat.

“Wacana pengairan dari Merancang menuju Tanjung Batu sudah pernah disampaikan beberapa tahun lalu. Persoalan ini juga sering kami sampaikan dalam Musrenbang tingkat kecamatan. Tetapi sampai sekarang belum terlihat realisasinya,” ujar salah satu tokoh masyarakat Tanjung Batu.

Dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, sebagian warga mengandalkan air hujan yang ditampung ketika musim penghujan. Saat persediaan tidak mencukupi, warga kemudian membeli air dari penyedia.

Untuk satu tandon berkapasitas sekitar 1.200 liter, warga mengeluarkan biaya sekitar Rp20 ribu hingga Rp25 ribu. Air tersebut digunakan untuk mandi, mencuci, memasak dan berbagai kebutuhan rumah tangga lainnya.

“Kalau persediaan air hujan tidak ada atau tidak cukup, kami harus membeli. Satu tandon sekitar 1.200 liter harganya Rp20 ribu sampai Rp25 ribu dan bisa habis sekitar dua hari, tergantung pemakaian,” ungkap seorang warga Tanjung Batu.

Kondisi tersebut membuat warga harus mengatur pemakaian air secara ketat. Bagi rumah tangga dengan kebutuhan air lebih banyak, pembelian dilakukan berulang kali dalam sebulan.

Persoalan air bersih ini bukan aspirasi yang baru disampaikan. Sejumlah warga menyebut kebutuhan tersebut berulang kali masuk dalam pembahasan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) tingkat kecamatan.

“Setiap ada Musrenbang kecamatan, persoalan air bersih ini kembali disampaikan. Sampai sekarang masyarakat masih menghadapi kondisi yang sama. Kami mempertanyakan tindak lanjut dari aspirasi yang sudah berulang kali masuk dalam pembahasan,” kata tokoh masyarakat tersebut.

Warga juga meminta adanya kejelasan mengenai rencana pengairan Merancang–Tanjung Batu. Sebab, selama rencana tersebut belum terealisasi, masyarakat masih harus mencari sendiri sumber air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Kalau memang ada rencana pengairan dari Merancang ke Tanjung Batu, masyarakat ingin tahu bagaimana kelanjutannya. Jangan sampai persoalan ini terus dibahas dalam Musrenbang, tetapi tidak ada kejelasan mengenai realisasinya,” ujarnya.

Sejumlah warga turut menyoroti peran wakil rakyat dari daerah pemilihan (Dapil) Pesisir agar aspirasi tersebut mendapat pengawalan dalam pembahasan pembangunan daerah.

“Kami meminta Anggota DPRD dari Dapil Pesisir ikut mengawal persoalan ini. Air bersih merupakan kebutuhan dasar masyarakat. Aspirasi yang sudah berulang kali disampaikan jangan berhenti sebatas pembahasan,” tuturnya.

Hingga akhir 2026, warga Tanjung Batu masih mengandalkan air hujan ketika tersedia dan membeli air ketika persediaan tidak mencukupi.
Bagi masyarakat, persoalan tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan air bersih di Tanjung Batu masih membutuhkan tindak lanjut yang nyata. Rencana pengairan Merancang–Tanjung Batu yang telah lama menjadi aspirasi pun kini kembali dipertanyakan kelanjutannya.***

Tinggalkan Balasan