LiterasiAktual.com – Ilmu pengetahuan berkembang pesat pada masa Bani Abbasiyah. Pada saat itu juga terjadi kemunduran kekuasaan Bani Abbasiyah.
Pada masa Bani Abbasiyah kemajuan ilmu pengetahuan dimulai dari Khalifah Harun Al Rasyid (206-209M) bersama putranya Al-Ma’mun (813-833 M). Penerjemahan buku-buku yunani hingga perkembangan ilmu pengetahuan dalam bidang sains dan teknologi juga terjadi pada masa kejayaan dan kemunduran ini.
Dinasti Abbasiyah adalah pemerintah yang datang untuk mengontrol setelah gari Ummayyah di Damaskus meledak. Selepas kehancuran, dinasti Abbasiyah mengumpulkan kemajuan islam pada standar sains sekaligus menjadikan perintah Mu’tazilah sebagai aliran kekuasaan negara, yang dijunjung tinggi oleh Khalifah Al-Ma’mun anak Harun al-Rasyid.
Disamping kemakmuran mereka, mereka menyebarkan Islam ke seluruh Jazirah Arab, Afrika Utara (Mesir, Libya, Tunisia, Maroko), Suriah, Palestina, Mesopotamia (Irak), Persia (Iran), Transoxiana (Asia Tengah), Semenanjung Iberia (Spayol dan Portugal), serta India. Disini umat Muslim di dorong untuk mempelajari serta memahami tradisi Ilmiah Negara yang menangkan serta menguraikan karya-karya logis dari bahasa Yunani dan Syria ke dalam bahasa Arab pada masa pemerintahan Bani Umayyah yang terfokus di Damaskus, Syria.
Beberapa faktor yang mempengaruhi kemajuan pesat ilmu pengetahuan Islam melalui orang-orang kreatif, misalnya ;
- Al-Kindi
- Ar-Razi
- Al-Farabi
- Ibnu Sina (Avicenna)
- Al-Masudi
- Di-Tabir
- Al-Ghazali
- Nasir Khuruss
- Al-Jazari
- Omar Khayyam
Dimasa ini, ilmu Islam telah mengarah dalam bidang pengobatan, inovasi, matematika, topografi, bahkan sejarah. Bahkan salah satu cendikiawan muslim yaitu Al-Jazari menjadi tokoh besar dalam bidang mekanik serta industri.
Al-Jazari merupakan tokoh besar yang lahir di Al-Jazira yang terletak di sisi utara Irak dan timur Syiria, tepatnya di antara sungai tigris dan eufrat. Al-Jazari mengabadikan dirinya kepada raja-raja dari Dinasti Artuq, pada masa Nasir Al-Din Ibn Muhammad (597 H- 619 H/ 1200M – 1222M).
Pada saat itu, Al-jazari mampu menuliskan serta menggambar temuan-temuannya yang menginspirasi mesin-mesin modern saat ini. Buku yang mengulas sekitar 50 temuan tersebut mencakup teori serta praktik hingga pendokumentasian hingga dilengkapi dengan rancangan gambar secara terperinci.
baca juga Hari Puisi Nasional, Mengulik Perjalanan Chairil Anwar
Berkat karya inilah Al-Jazari mengangkat sejarah peradaban Islam pada abad pertengahan.

Selain itu, Al-Jazari juga memiliki banyak karya megenai teknologi hingga seni. Hal tersebut diketahui dari bukunya yang berjudul kitab fi ma’rifat al-hiyal al handasiyya. Dalam buku ini tertulis penemuan hingga gambar yang sangat rinci. Sebagian dari perangkat keras didorong oleh perangkat sebelumnya, misalnya pencatat waktu air, yang bergantung pada Pseudo-Archimedes.
Beliau merujuk pada pengaruh saudara-saudara Banu Musa terhadap mata airnya, Al-asturlabi untuk denah lampu, dan Hibat ibn Al-Husain untuk musik automata. Kemudian iya kembangkan untuk menggambarkan peningkatan seperti menggambarkan aparatus, metode, bagian-bagian yang merupakan perkembangan uniknya yang sebelumnya tidak jelas dibuat.
Dari semua mesin yang telah dibuat, dua hal yang paling luar biasaya yaitu jam gajahnya yang terkenal (jam paling canggih pada waktu itu) serta alat pompa air yang menggunakan sistem crank slider.
Penemuan Al-Jazari menjadi sebuah kemajuan peradaban Islam pada masa pertengahan, dan karyanya menjadi dasar pada bidang mekanik karena teori dasar yang dibuktikan dengan karya nyata. Sehingga dalam bukunya kitab fi ma’rifat al-hiyal al-handasiyya menjadi kontribusi terhadap perkembangan ilmu mekanika karena ditulis secara detai.













