Pemerintahan

Meningkatnya Kebutuhan Tiket Penerbangan Maratua-Samarinda dan Maratua-Tarakan, Warga Sampaikan Aspirasi, Bandara Berikan Penjelasan

Avatar
12
×

Meningkatnya Kebutuhan Tiket Penerbangan Maratua-Samarinda dan Maratua-Tarakan, Warga Sampaikan Aspirasi, Bandara Berikan Penjelasan

Sebarkan artikel ini

Meningkatnya Kebutuhan Tiket Penerbangan Maratua-Samarinda dan Maratua-Tarakan, Warga Sampaikan Aspirasi, Bandara Berikan Penjelasan

Maratua-Berau,Kaltim – Sejumlah warga Pulau Maratua mengeluhkan sulitnya mendapatkan tiket pesawat untuk perjalanan menuju maupun keluar dari wilayah kepulauan tersebut.Kamis(18/06/26)

Menurut warga, tiket penerbangan sering kali sudah habis meskipun pemesanan dilakukan satu minggu sebelum keberangkatan. Bahkan, tidak sedikit warga yang harus memesan hingga satu bulan sebelumnya untuk memastikan memperoleh kursi.

Keluhan tersebut terjadi pada layanan penerbangan perintis yang saat ini dilayani oleh Smart Aviation rute Maratua-Samarinda dan Susi Air rute Maratua-Tarakan.

“Satu minggu sebelum keberangkatan biasanya tiket sudah habis. Kadang harus pesan sampai satu bulan sebelumnya baru bisa dapat kursi,” ungkap salah seorang warga

Warga menilai kondisi tersebut cukup menyulitkan, terutama bagi masyarakat yang memiliki kebutuhan mendesak seperti berobat, pendidikan, pekerjaan, urusan keluarga, maupun keperluan lainnya di luar pulau.

Sebagian warga juga mengusulkan adanya alokasi kursi khusus bagi masyarakat lokal. Mereka berharap setidaknya tersedia empat kursi yang dapat diprioritaskan bagi warga Maratua hingga mendekati jadwal keberangkatan, sebelum dibuka kembali untuk umum apabila tidak terpakai.

Menanggapi keluhan tersebut, pihak pengelola pemasaran tiket penerbangan perintis di Maratua menjelaskan bahwa kapasitas pesawat yang terbatas menjadi salah satu penyebab utama tiket sering habis.

“Pertama-tama perlu kami sampaikan bahwa kami hanya membantu pihak maskapai dalam pemasaran dan penjualan tiket. Terkait peraturan dan kebijakan penerbangan merupakan kewenangan maskapai dan pihak terkait.

Tiket sering penuh karena pesawat yang digunakan hanya memiliki kapasitas maksimal 12 kursi,” jelasnya.

Terkait peningkatan jumlah penumpang, pihaknya mengaku belum dapat memberikan angka pasti karena perhitungan dilakukan dalam evaluasi tahunan. Namun berdasarkan tren penjualan tiket, terjadi peningkatan permintaan penumpang.

“Kalau peningkatan jumlah penumpang belum bisa kami jawab secara rinci karena dihitung dalam periode tahunan. Namun dari penjualan tiket memang terlihat adanya peningkatan jumlah penumpang,” katanya.

Mengenai usulan prioritas bagi masyarakat lokal, pihak pengelola tiket menjelaskan bahwa selama ini telah tersedia dua kursi darurat atau emergency seat yang diprioritaskan untuk kebutuhan masyarakat, terutama pasien rujukan.

“Kami menyediakan dua seat emergency untuk kebutuhan masyarakat dan mengutamakan orang sakit atau pasien rujukan. Silakan ditanyakan kepada masyarakat Maratua, selama penerbangan perintis Smart Aviation siapa yang tidak pernah mendapatkan kursi ketika membutuhkan rujukan medis,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa dalam aturan penerbangan perintis sebenarnya tidak terdapat ketentuan mengenai kursi darurat tersebut. Namun kebijakan itu tetap dijalankan sebagai bentuk pelayanan kepada masyarakat yang membutuhkan.

“Seat emergency itu sebenarnya tidak ada dalam aturan penerbangan perintis, sehingga tidak pernah kami publikasikan. Namun tetap kami siapkan untuk kebutuhan masyarakat,” tambahnya.

Terkait usulan alokasi kursi khusus bagi warga lokal, pihaknya menilai hal tersebut cukup sulit diterapkan karena penerbangan perintis memiliki target jumlah penumpang yang harus dipenuhi.

“Kalau terkait alokasi kursi khusus saya rasa cukup sulit, karena dalam aturan penerbangan perintis terdapat target jumlah penumpang yang harus dipenuhi. Karena itu kami memilih menyediakan seat emergency untuk kebutuhan mendesak masyarakat,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Bandara Maratua menegaskan bahwa pihak bandara tidak melakukan penjualan tiket penerbangan. Penjualan tiket merupakan kewenangan maskapai maupun pihak yang ditunjuk oleh maskapai.

“Terkait penjualan tiket, itu merupakan kewenangan maskapai. Namun aspirasi masyarakat akan kami sampaikan kepada Korwil Tarakan dan Samarinda agar dapat menjadi bahan evaluasi bersama,” ujarnya.

Menurutnya, penambahan frekuensi penerbangan juga harus mempertimbangkan keberlanjutan operasional penerbangan perintis yang dibiayai melalui skema tertentu.

“Misalnya sekarang ditambah, mungkin pesawat hanya terbang sampai bulan Oktober saja. Bagaimana dengan bulan November dan Desember jika penerbangan tidak dapat berjalan lagi karena keterbatasan anggaran,” katanya.

Kepala Bandara Maratua juga mengungkapkan bahwa upaya menghadirkan pesawat berkapasitas lebih besar sebenarnya pernah dilakukan pada awal tahun. Saat itu dibuka penerbangan menggunakan pesawat berkapasitas 72 penumpang untuk rute Maratua-Kalimarau pulang pergi sebanyak tiga kali dalam seminggu.

Namun layanan tersebut tidak bertahan lama karena tingkat keterisian penumpang masih rendah.

“Awal tahun kemarin kita sudah mencoba mendatangkan pesawat yang lebih besar dengan kapasitas 72 penumpang untuk rute Maratua-Kalimarau pulang pergi tiga kali seminggu. Namun tingkat okupansi saat itu kurang dari 10 penumpang sehingga maskapai tidak melanjutkan operasionalnya,” jelasnya.

Meski demikian, pihak Bandara Maratua tetap optimistis terhadap potensi wilayah tersebut yang terus berkembang, terutama pada sektor pariwisata.

“Kami berharap seluruh pihak, baik Kementerian Perhubungan, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, Pemerintah Kabupaten Berau maupun seluruh pemangku kepentingan dapat bersama-sama mengajak maskapai yang lebih besar untuk terbang ke dan dari Maratua.

Dengan begitu pelayanan kepada masyarakat dapat meningkat sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi dan pariwisata,” ujarnya.

Menurutnya, Maratua memiliki potensi penumpang yang cukup baik dan terus berkembang seiring meningkatnya kunjungan wisatawan ke destinasi yang kini semakin dikenal hingga tingkat internasional.

“Namun demikian kami terus berusaha mengajak maskapai untuk masuk ke Maratua karena daerah ini memiliki potensi yang baik, apalagi didukung sektor pariwisata yang sudah mendunia seperti sekarang ini,” pungkasnya.

Keluhan warga dan penjelasan dari pihak pengelola tiket serta Bandara Maratua tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan transportasi udara masyarakat terus meningkat.

Di sisi lain, keterbatasan kapasitas pesawat dan keberlanjutan operasional penerbangan perintis masih menjadi tantangan yang perlu dicarikan solusi bersama demi meningkatkan konektivitas dan pelayanan bagi masyarakat Maratua.***

Editor : Teguh S.H

Sumber: Berbagai Sumber

Tinggalkan Balasan