Nasional

Riau Berkain 2026 Angkat Kebaya Laboh, Dorong Wastra Melayu Go Internasional

Nisa Mahira
98
×

Riau Berkain 2026 Angkat Kebaya Laboh, Dorong Wastra Melayu Go Internasional

Sebarkan artikel ini

PEKANBARU (LA) — Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Riau kembali menghelat acara Riau Berkain 2026 sebagai wujud nyata pelestarian dan pengenalan kekayaan wastra Melayu kepada khalayak luas. Kini menginjak penyelenggaraan kelima, ajang tersebut dimeriahkan peragaan busana yang menampilkan pesona kebaya laboh sebagai busana warisan Melayu yang dikemas dengan sentuhan kekinian.

Menurut Ketua Panitia Riau Berkain 2026, Shanti Lestari, edisi tahun ini mengangkat tema “Kebaya Laboh, Warisan Melayu dalam Karya dan Gaya Masa Kini”. Ajang ini menjadi wadah bagi pelaku industri fesyen untuk menggali kekayaan budaya Riau lewat karya busana. Sinergi antara nilai tradisional dan kreativitas modern diharapkan menghadirkan kebaya laboh yang tetap mempertahankan karakter khasnya, namun tampil lebih segar dan elegan.

“Lewat tema ini, kami ingin mengangkat aspirasi terhadap busana Melayu, sehingga kebaya laboh dapat tampil sebagai busana yang berbudaya, tetapi tetap segar dan elegan. Kami juga berharap desainnya terus bergerak dan berkembang ke depannya,” tutur Shanti di Hotel Grand Elite Pekanbaru, Sabtu (7/11).

Shanti menambahkan, kegiatan ini bukan sekadar berorientasi pada pelestarian dan pengenalan kebaya laboh, melainkan juga membangun kolaborasi berkelanjutan antara desainer dan model. Pengembangan wastra serta perluasan pemasaran batik dan tenun Riau turut menjadi bagian penting dalam memperkuat identitas daerah melalui industri kreatif fesyen.

Sementara itu, Ketua API BPD Riau, Arningsih, mengungkapkan bahwa Riau Berkain telah memasuki tahun kelima dan konsisten digelar setiap tahun. Ia berharap acara tersebut dapat memacu masyarakat, terutama anggota API BPD Riau, untuk semakin mencintai dan menggunakan wastra lokal dalam berbagai kesempatan.

“Riau Berkain sudah memasuki tahun kelima dan selalu kita laksanakan setiap tahunnya. Ke depannya, teman-teman BPD Riau akan selalu menggunakan wastra Riau agar wastra dan budaya kita semakin berkembang,” ujar Arningsih.

Lebih dari sekadar perayaan busana tradisional, Arningsih menilai Riau Berkain juga berperan mendorong pemberdayaan perempuan atau empowering women. Ia berharap gerakan tersebut terus berkembang dan mampu membawa wastra Riau semakin dikenal, bahkan menembus pasar dunia.

Dukungan terhadap pengembangan wastra juga disampaikan Kepala Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Bekasi Kementerian Ketenagakerjaan RI, Yose Rizal. Menurutnya, penyelenggaraan Riau Berkain 2026 mencerminkan kemajuan wastra dan industri tekstil di Riau yang perlu terus didorong melalui inovasi, desain, serta kreativitas.

Yose menegaskan, kemajuan industri tekstil tidak semestinya hanya diukur dari jumlah kain yang diproduksi. Lebih dari itu, masa depan industri tekstil juga ditentukan oleh sejauh mana produk yang dihasilkan mampu memberikan dampak terhadap kebudayaan, produktivitas, serta pertumbuhan ekonomi masyarakat.

“Wastra bukan hanya peninggalan budaya, tetapi juga identitas dan potensi ekonomi yang besar. Warisan budaya harus kita dorong menjadi sumber inovasi, kreativitas, produktivitas, dan ekonomi,” tegas Yose.

Ia pun mengajak seluruh pihak untuk memandang kain bukan sekadar produk yang dikenakan, melainkan sebagai bagian dari penggerak budaya sekaligus peluang dalam menciptakan lapangan kerja. Menurutnya, kekayaan tekstil dan wastra yang dimiliki Riau dapat menjadi modal penting untuk membangun ekosistem industri fesyen yang lebih kuat.

“Saya mengajak semua untuk melihat kain bukan hanya sebagai produk yang dikenakan, tetapi sebagai roda penggerak budaya dan pencipta lapangan kerja. Jadikan Riau yang tidak hanya kaya akan warisan tekstil namun juga bisa sebagai pusat pertumbuhan fashion Indonesia, bahkan Asia Tenggara,” tuturnya.

Tinggalkan Balasan