Nasional

Potret Jurnalis di Perbatasan Indonesia-Malaysia : Pos Satgas TNI Sei Kaca Memprihatinkan !

Avatar
0
×

Potret Jurnalis di Perbatasan Indonesia-Malaysia : Pos Satgas TNI Sei Kaca Memprihatinkan !

Sebarkan artikel ini

Surat Terbuka Untuk Presiden Prabowo: Pos Sei Kaca Penjaga Perbatasan Indonesia-Malaysia Memprihatinkan!

Nunukan, Kalimantan Utara(L.A)— Dari beranda negeri di garis terluar Indonesia, suara lirih namun tegas itu datang. Sebuah potret nyata disampaikan jurnalis dari Pos Sei Kaca, wilayah perbatasan Indonesia Malaysia yang berada di jalur Sungai Ular.Jumat(25/4/26)

Kondisi yang ada hari ini jauh dari kata layak untuk sebuah pos penjagaan kedaulatan negara.
Melalui surat terbuka ini, perhatian Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto diharapkan dapat tertuju pada kondisi memprihatinkan yang dialami personel penjaga perbatasan di Pos Sei Kaca.

Pos yang seharusnya menjadi simbol kekuatan negara, justru berdiri dengan keterbatasan yang mencolok.

Sumber air bersih di pos tersebut hanya bergantung pada air hujan. Ketika musim kemarau datang, krisis air menjadi ancaman nyata bagi prajurit yang bertugas.

Di sisi lain, listrik yang mengandalkan panel surya sering mengalami kerusakan, menyebabkan aktivitas operasional terganggu, bahkan dalam kondisi darurat.

Dari sisi transportasi, keterbatasan speed boat menjadi persoalan krusial. Jalur Sungai Ular yang menjadi akses utama mobilitas warga dari Nunukan menuju Malinau dan wilayah sekitarnya, kerap menjadi lokasi kecelakaan.

Namun, minimnya armada cepat membuat proses evakuasi korban tidak dapat dilakukan secara optimal dan cepat.

Lebih jauh, kebutuhan akan teknologi pengawasan juga sangat mendesak. Hingga saat ini, belum tersedia drone pengintai maupun kamera CCTV jarak jauh yang mampu memantau pergerakan di perairan perbatasan.

Padahal, wilayah tersebut memiliki intensitas lalu lintas yang tinggi dan berpotensi terhadap berbagai risiko, mulai dari kecelakaan hingga aktivitas ilegal lintas batas.

Kondisi bangunan pos juga menjadi sorotan serius. Struktur yang masih berbahan kayu membuat pos rentan rusak, terutama saat cuaca ekstrem melanda.

Situasi ini berbanding terbalik dengan pos militer Malaysia yang berada tepat di seberang. Terlihat kokoh dengan bangunan permanen dan didukung peralatan canggih, bahkan dilengkapi sistem pemantauan aktif yang secara rutin mengawasi perairan Sungai Sei Kaca.

Kesenjangan ini bukan sekadar persoalan fasilitas, tetapi juga menyangkut marwah dan wibawa negara di wilayah perbatasan.

Para prajurit Indonesia yang bertugas di garis depan seharusnya mendapatkan dukungan sarana dan prasarana yang memadai, setara dengan tantangan yang mereka hadapi setiap hari.

Melalui surat terbuka ini, jurnalis menyampaikan harapan besar agar pemerintah pusat segera mengambil langkah konkret.

Pembangunan ulang pos dengan struktur permanen, penyediaan air bersih, perbaikan sistem listrik, penambahan armada transportasi air, serta penguatan teknologi pengawasan menjadi kebutuhan mendesak yang tidak bisa ditunda.

Perbatasan bukan halaman belakang negeri, melainkan wajah terdepan Indonesia di mata dunia. Sudah saatnya Pos Sei Kaca berdiri sebagai simbol kekuatan, bukan potret keterbatasan.

Negara hadir bukan hanya dalam kebijakan, tetapi dalam keberpihakan nyata bagi mereka yang menjaga kedaulatan di ujung negeri.***

Penulis : Teguh S.H

Tinggalkan Balasan