Berita

“Kemarau Panjang di Pulau Maratua, Warga Tiga Kampung Beli Air Rp150 Ribu per Tandon,Dua Embung Raksasa Gagal Jadi Solusi”

Avatar
6
×

“Kemarau Panjang di Pulau Maratua, Warga Tiga Kampung Beli Air Rp150 Ribu per Tandon,Dua Embung Raksasa Gagal Jadi Solusi”

Sebarkan artikel ini

Pulau Maratua,Kab,Berau (L.A) – Kemarau panjang yang melanda wilayah Pulau Maratua hingga September 2026 ini membuat warga di tiga kampung terpaksa terus membeli air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Harga satu tandon berkapasitas sekitar 1.200 liter mencapai Rp120 ribu hingga Rp150 ribu.

Kondisi tersebut terutama dirasakan warga Kampung Teluk Alulu, Bohesilian, dan Payung-Payung. Selama ini, ketiga kampung tersebut lebih banyak mengandalkan air hujan yang ditampung melalui tandon di rumah masing-masing

Ketika hujan tidak turun dalam waktu cukup lama, cadangan di dalam tandon semakin menipis hingga akhirnya habis. Warga kemudian harus memesan air dari Kampung Teluk Harapan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Sementara Kampung Teluk Harapan (ibu kota Kecamatan Maratua) memiliki sumber mata air tawar. Keberadaan sumber tersebut membuat warga setempat relatif tidak mengalami tekanan yang sama ketika musim kemarau berlangsung.

Bagi warga Teluk Alulu, Bohesilian, dan Payung-Payung, kondisi tersebut berarti adanya pengeluaran tambahan setiap kali persediaan di rumah habis.

Kondisi tersebut kembali menyoroti sejumlah sarana penampungan air yang sebelumnya diharapkan dapat membantu kebutuhan warga ketika musim kemarau.

Di Kampung Teluk Alulu, embung air yang dibangun untuk menampung air hujan saat ini tidak dapat dimanfaatkan. Berdasarkan keterangan warga, bagian lantai embung mengalami keretakan sehingga air tidak dapat tertampung sebagaimana mestinya.

Akibat kondisi tersebut, embung tidak menjadi sarana yang siap digunakan ketika warga membutuhkan cadangan air pada musim kemarau. Saat tandon rumah tangga mulai kosong, warga harus membeli pada penjual air dari kampung Teluk harapan

Ironisnya,di Kampung Payung-Payung, pembangunan embung air hujan disebut tidak berlanjut. Pekerjaan yang tidak selesai membuat fasilitas tersebut hingga kini berada dalam kondisi mangkrak dan belum dapat dimanfaatkan untuk membantu kebutuhan warga sebagaimana embung digadang-gadang mampu mengatasi dengan menampung air hujan saat turun.

Dua kondisi tersebut menjadi perhatian karena sarana penampungan air seharusnya dapat digunakan ketika curah hujan menurun dan cadangan rumah tangga mulai habis.

Sejumlah tokoh masyarakat meminta pemerintah mengevaluasi kondisi kedua fasilitas tersebut, termasuk fungsi, keberlanjutan pembangunan, serta manfaatnya bagi warga.

Menurutnya, anggaran yang telah digunakan untuk pembangunan sarana tersebut semestinya menghasilkan fasilitas yang dapat dimanfaatkan

Warga juga mengusulkan agar pemerintah menambah bantuan tandon air rumah tangga di tiga kampung yang selama ini mengandalkan air hujan.

Penambahan jumlah tandon dinilai dapat memberikan ruang penyimpanan lebih besar sehingga air hujan yang turun dapat ditampung sebagai cadangan untuk menghadapi musim kering tibah.

“Kalau tandon ditambah, warga bisa menampung air hujan di rumah masing-masing Itu bisa membantu ketika musim kemarau ,” katanya.

Usulan tersebut dinilai lebih mudah diterapkan di tingkat rumah tangga, terutama bagi warga yang selama ini menjadikan air hujan sebagai sumber utama kebutuhan sehari-hari.

Teknologi Desalinasi Jadi Alternatif
Warga lainnya menilai pemerintah juga perlu mempertimbangkan pilihan teknologi yang sesuai dengan karakter Maratua sebagai wilayah kepulauan.

Salah satu alternatif yang disebut adalah teknologi desalinasi, yakni proses pengolahan air laut menjadi air tawar.

Keberadaan laut yang luas di sekitar Maratua dinilai dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam mencari sumber pasokan alternatif. Penerapannya tentu membutuhkan kajian mengenai kapasitas produksi, kebutuhan energi, biaya pembangunan dan operasional, serta sistem pengelolaannya.

Warga menilai anggaran penyediaan sarana air dalam jumlah besar semestinya diarahkan pada solusi yang memiliki manfaat jangka panjang dan dapat digunakan secara berkelanjutan.

“Maratua ini daerah kepulauan, air laut tersedia. Ada teknologi yang bisa mengubah air laut menjadi air tawar. Kalau anggaran sebesar itu digunakan dengan perencanaan yang tepat, tentu bisa menghasilkan solusi yang lebih efisien dan efektif untuk kebutuhan masyarakat,” demikian pandangan warga.

Teknologi tersebut tidak harus langsung diterapkan, tetapi dapat dikaji sebagai salah satu alternatif berdasarkan kebutuhan, kemampuan pengelolaan, dan kondisi geografis setempat.

Kebutuhan terhadap sumber air yang memadai disebut bukan persoalan baru bagi warga Maratua. Aspirasi mengenai ketersediaan air telah disampaikan selama bertahun-tahun.

Kondisi yang kembali dirasakan setiap musim kemarau dinilai perlu menjadi catatan penting bagi DPRD Kabupaten Berau, khususnya wakil rakyat pesisir

Warga meminta wakil rakyat dari dapil tersebut mendorong penyelesaian melalui kebijakan, penganggaran, dan fungsi pengawasan. Evaluasi terhadap fasilitas yang sudah dibangun juga diperlukan agar pembangunan berikutnya benar-benar sesuai kebutuhan dan dapat dimanfaatkan.

Maratua merupakan wilayah strategis sekaligus destinasi wisata internasional. Ketersediaan air berkaitan dengan berbagai aktivitas, mulai dari kebutuhan rumah tangga hingga operasional penginapan, restoran, usaha kecil, dan kegiatan wisata.

Apabila kondisi kekurangan pasokan terus berulang setiap musim kemarau, beban tidak hanya dirasakan keluarga. Aktivitas ekonomi yang bergantung pada ketersediaan air juga berpotensi ikut terdampak.

Hal tersebut menjadi perhatian karena sektor pariwisata merupakan salah satu potensi ekonomi penting yang terus berkembang di Maratua.

Bagi warga, pembangunan tidak cukup berhenti pada tersedianya infrastruktur. Fasilitas yang dibangun harus berfungsi, dapat dipelihara, dan memberikan manfaat nyata.***

Tinggalkan Balasan