Berita

Erupsi Menerus Gunung Anak Krakatau, Aktivitas Tertinggi Sepanjang 2026

Avatar
0
×

Erupsi Menerus Gunung Anak Krakatau, Aktivitas Tertinggi Sepanjang 2026

Sebarkan artikel ini
Oplus_131072

SERANG – Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda mengalami erupsi menerus dengan intensitas letusan tertinggi sepanjang tahun 2026. Aktivitas vulkanik yang berlangsung sejak Jumat (4/9) malam hingga Minggu (6/9) dini hari ini memicu peningkatan kewaspadaan di berbagai sektor, mulai dari penerbangan hingga pelayaran.

Kronologi dan Intensitas Erupsi

Erupsi menerus Gunung Anak Krakatau tercatat mulai terjadi pada Jumat (4/9) pukul 23.07 WIB. Aktivitas ini merupakan puncak dari rangkaian erupsi yang telah berlangsung sejak status gunung dinaikkan menjadi Level III atau Siaga pada 2 Juli 2026.

Pengamat Gunung Api Anak Krakatau, Muhammad Dika Nurzaman, menyatakan erupsi tersebut terindikasi sebagai pancaran lava atau lava fountain. Letusan yang terjadi pada 4 hingga 5 September ini menjadi yang tertinggi secara intensitas sejak gunung berstatus siaga.

Berdasarkan rekaman instrumental, episode gempa erupsi menerus berlangsung selama lebih dari 25 jam. Secara akumulatif, gunung tersebut telah mengalami lebih dari 240 kali letusan sejak penetapan status siaga pada 2 Juli 2026.

Erupsi menerus akhirnya berhenti pada Minggu (6/9) pukul 00.04 WIB. Namun, PVMBG masih mencatat satu kali erupsi susulan bertipe Strombolian pada pukul 03.53 WIB dengan durasi sekitar 30 detik. Bahkan pada pagi harinya, Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi pada pukul 07.10 WIB, meskipun tinggi kolom erupsi tidak teramati.

Dampak dan Imbauan

Kepala PVMBG Siti Sumilah Rita Susilawati menegaskan tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau tetap berada pada Level III atau Siaga. Meskipun episode erupsi menerus telah berakhir, potensi letusan susulan masih tergolong tinggi.

“Memang saat ini alat pemantauan kami memonitor aktivitas Gunung Anak Krakatau menurun, tetapi menurunnya itu bukan berarti akan berhenti aktivitasnya. Kemungkinan masih akan terjadi erupsi,” ujar Rita.

PVMBG mengimbau masyarakat, wisatawan, maupun pendaki untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas gunung. Potensi bahaya yang perlu diwaspadai meliputi lontaran batu pijar, hujan abu lebat, serta aliran lava apabila erupsi menerus kembali terjadi.

Kepala Badan Geologi Lana Saria menjelaskan erupsi yang kerap berulang ini terkait dengan suplai magma dan gas yang masih berlangsung di dalam tubuh gunung. Ia menambahkan aktivitas Gunung Anak Krakatau berpotensi berfluktuasi dan meningkat karena masih terekamnya gempa frekuensi rendah serta harmonik dan tremor.

Penerbangan dan Pelayaran Terdampak

Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau berdampak terhadap sedikitnya 33 penerbangan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta hingga 5 September pukul 22.00 WIB. Dampak terbesar terjadi pada penerbangan internasional, dengan 16 penerbangan dibatalkan, 7 ditunda, dan 5 dijadwalkan ulang.

Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Banten juga mengeluarkan peringatan kewaspadaan bagi seluruh kapal yang melintasi Perairan Selat Sunda. Kapal dilarang mendekati kawasan dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif Gunung Anak Krakatau.

Tsunami dan Dentuman

Meskipun aktivitas erupsi cukup tinggi, potensi ancaman tsunami dinilai sangat minim. Kepala PVMBG menyatakan letusan ini bersumber dari kantong magma gunung itu sendiri sehingga tidak memicu aktivitas pada gunung api lain di Indonesia.

“Untuk potensi tsunami sangat kecil, bahkan bisa dikatakan tidak ada. Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, tidak panik, dan tetap menjauh dari Gunung Anak Krakatau dalam radius tiga kilometer,” tegas Dika.

Suara gemuruh dan dentuman yang terdengar hingga ke wilayah pesisir Banten dan Lampung merupakan suara dari hasil erupsi yang merambat ke udara, bukan dentuman akibat gempa bumi atau gerakan tanah. (NM)

Tinggalkan Balasan