Berita

Diskusi Publik 236 Tahun Tanjung Selor, Telusuri Sejarah dan Perkuat Identitas Daerah

Avatar
0
×

Diskusi Publik 236 Tahun Tanjung Selor, Telusuri Sejarah dan Perkuat Identitas Daerah

Sebarkan artikel ini

Tanjung Selor,Kaltara(L.A) – Memperingati 236 tahun perjalanan sejarah Tanjung Selor, Yayasan Lembah Bambu Borneo bekerja sama dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Kaltara (Unikaltara) menggelar diskusi publik bertema “Tanjung Selor 236 Tahun: Menelusuri Jejak Sejarah, Merawat Identitas, Menatap Masa Depan”.

Kegiatan tersebut berlangsung di kawasan Lembah Bambu Borneo, Jalan Makam, Desa Gunung Sari, Tanjung Selor, Kalimantan Utara (Kaltara). Diskusi ini menjadi ruang dialog lintas generasi untuk menggali sejarah, memperkuat identitas lokal, serta merefleksikan arah pembangunan Tanjung Selor ke depan.

Hadir sebagai narasumber, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Bulungan Dharmawan, Ketua Yayasan Sejarah dan Budaya Kaltara Joko Supriyadi, akademisi sekaligus dosen FISIP Unikaltara Jimmy Nasroen, sejarawan Bulungan Muhammad Zarkasy, serta tokoh muda Tionghoa Hendi Darmawan. Diskusi dipandu Hamidan, tokoh muda Kampung Pasar yang dikenal sebagai salah satu kawasan permukiman tua di Tanjung Selor.

Dalam diskusi tersebut, sejarawan Bulungan Muhammad Zarkasy mengungkapkan bahwa penetapan hari jadi Tanjung Selor memiliki landasan historis yang pernah dibahas melalui seminar sejarah pada 1991, yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Bulungan.

Menurut Zarkasy, seminar tersebut menghadirkan empat makalah yang disusun oleh Moh. Arsyad, Mohamad Noor Ars, Zulkifli Neman, dan Dachlan Syahranie. Dari keempat makalah itu, karya Dachlan Syahranie dinyatakan sebagai makalah terbaik dan menjadi dasar penetapan hari jadi Tanjung Selor pada 12 Oktober 1790.

Ia menjelaskan, pemilihan tanggal 12 Oktober dikaitkan dengan pelantikan Andi Tjajo sebagai Bupati pertama Kabupaten Bulungan pada 1960. Sementara itu, tahun 1790 dikaitkan dengan perpindahan pusat pemerintahan Kesultanan Bulungan dari Salimbatu ke Tanjung Palas pada masa Sultan Aji Muhammad Alimuddin (1777–1817), yang dimakamkan di Salimbatu dan dikenal sebagai Sultan Apit Gunung.

Perpindahan pusat pemerintahan tersebut, menurut Zarkasy, turut diikuti perpindahan banyak penduduk menuju kawasan Tanjung Selor. Peristiwa itu kemudian dipandang sebagai salah satu bagian penting dalam perkembangan kawasan yang kini dikenal sebagai Tanjung Selor.

Atas dasar keterkaitan sejarah tersebut, Zarkasy juga menyoroti bahwa penetapan tahun 1790 berkaitan dengan sejarah Tanjung Palas, sehingga hubungan historis antara kedua kawasan perlu dipahami secara utuh.
Ia menegaskan bahwa penetapan hari jadi tersebut tidak muncul begitu saja, melainkan melalui pembahasan dan pertimbangan dalam seminar sejarah. Kegiatan pada 1991 itu melibatkan sejumlah tokoh yang memiliki peran dalam kehidupan akademik dan sosial masyarakat Bulungan.

Di antara tokoh yang disebutkan ialah Rektor Universitas Mulawarman, Bid Lie, Zainal Abidin, Henrik Edom, Datu Badarudin, Datu Abdul Azis Saleh Mansyur, Sudarmoy atau Congmoy yang dikenal sebagai tokoh Tionghoa Bulungan, Ibrahim Abdulah, Yusuf Abdulah, serta sejumlah tokoh lainnya. Seminar berlangsung selama dua hari dan turut dihadiri Bupati Bulungan saat itu, Yusuf Dali.

Pemaparan tersebut menegaskan pentingnya menelusuri kembali dokumen dan kesaksian sejarah yang menjadi dasar penetapan hari jadi Tanjung Selor. Peringatan hari jadi tidak semestinya hanya menjadi agenda tahunan, tetapi juga kesempatan untuk memahami proses lahir dan berkembangnya kawasan tersebut dalam perjalanan sejarah Bulungan.

Perjuangan Kesultanan Bulungan Menghadapi Bajak Laut
Sementara itu, Ketua Yayasan Sejarah dan Budaya Kaltara, Joko Supriyadi, menekankan bahwa mempelajari sejarah Tanjung Selor tidak semestinya berhenti pada peringatan hari jadi secara seremonial. Sejarah perlu menjadi sarana untuk mengenang jasa para pendahulu sekaligus memahami perjuangan yang membentuk kehidupan masyarakat Bulungan.

Joko mengingatkan bahwa kawasan pesisir pada masa lalu menghadapi tantangan keamanan akibat aktivitas bajak laut. Kondisi tersebut menuntut perjuangan panjang dari para Sultan Bulungan bersama sekutu-sekutunya, termasuk kelompok masyarakat Dayak dan Tidung, untuk menjaga keamanan wilayah serta melindungi penduduk.

Menurutnya, perjuangan menghadapi ancaman bajak laut berlangsung selama puluhan tahun. Karena itu, sejarah kawasan ini tidak dapat dilepaskan dari keberanian, kerja sama, dan pengorbanan berbagai kelompok masyarakat yang hidup di wilayah Kesultanan Bulungan.

Joko juga menyinggung catatan Prof. Mika Okishima dari Jepang mengenai ekspedisi pemberantasan bajak laut yang menjangkau hingga Tawi-Tawi di Filipina selatan. Catatan tersebut, menurutnya, menjadi salah satu sumber untuk memahami luasnya jangkauan hubungan dan aktivitas Kesultanan Bulungan pada masa silam.

Ia turut menjelaskan keterkaitan wilayah yang kini dikenal sebagai Tawau dan Semporna di Sabah, Malaysia, dengan cakupan pengaruh Kesultanan Bulungan pada masa lalu, sebelum perkembangan kolonialisme Belanda dan Inggris mengubah tatanan politik kawasan.

Bagi Joko, pengetahuan sejarah tersebut penting agar masyarakat masa kini tidak memandang Bulungan semata-mata sebagai wilayah administratif, melainkan sebagai kawasan dengan perjalanan panjang, hubungan lintas etnis, serta dinamika politik dan sosial yang kompleks.

Ia menekankan bahwa pengenalan sejarah harus disertai upaya penelusuran sumber-sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Dengan demikian, generasi muda dapat memahami warisan masa lalu secara lebih utuh, menghargai jasa para pendahulu, serta menjadikan sejarah sebagai pijakan dalam membangun masa depan daerah.

Diskusi publik ini menjadi momentum untuk mempertemukan perspektif sejarah, akademik, dan generasi muda dalam memahami perjalanan Tanjung Selor. Penelusuran sejarah diharapkan dapat memperkuat identitas daerah sekaligus menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga warisan budaya.

Melalui kegiatan tersebut, sejarah tidak hanya diposisikan sebagai catatan masa lalu, tetapi juga sebagai sumber pembelajaran bagi generasi penerus dalam memahami jati diri, menghargai keberagaman, dan merancang masa depan Tanjung Selor dengan berlandaskan pengetahuan tentang perjalanan daerahnya.***

Penulis : Cristian

Tinggalkan Balasan