Berita

Polemik Pembatalan Pameran Yos Suprapto, Kapolri hingga Kurator Angkat Bicara

47
×

Polemik Pembatalan Pameran Yos Suprapto, Kapolri hingga Kurator Angkat Bicara

Sebarkan artikel ini

SOLO, (LA) – Polemik pembatalan pameran tunggal karya seniman Yos Suprapto di Galeri Nasional terus menjadi sorotan. Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo turut memberikan tanggapan, meski menegaskan bahwa pihak kepolisian tidak terkait langsung dengan keputusan pembatalan tersebut.

Dalam kunjungannya ke Terminal Tirtonadi, Solo, untuk meninjau kesiapan pengamanan Natal dan Tahun Baru, Sabtu (21/12/2024), Kapolri menjawab pertanyaan wartawan mengenai dugaan pembredelan pameran bertajuk Kebangkitan: Tanah untuk Kedaulatan Pangan.

“Kami tidak mendapat informasi terkait alasan pasti pembatalan. Apakah ada kesepakatan antara kurator dan pihak yang melaksanakan pameran, itu di luar ranah kami. Polri hanya bertugas memastikan keamanan bila dibutuhkan,” ujar Kapolri.

Latar Belakang Pembatalan Pameran

Pameran lukisan yang rencananya digelar pada Kamis (19/12/2024) di Galeri Nasional, Jakarta, mendadak batal di malam pembukaannya. Pengunjung yang sudah hadir tak diizinkan memasuki ruang pameran yang lampunya digelapkan dan pintunya dikunci.

Pembatalan ini dipicu oleh permintaan kurator, Suwarno Wisetrotomo, untuk menurunkan lima dari 30 lukisan yang dinilai tidak sesuai dengan tema pameran. Kelima lukisan tersebut menggambarkan sosok yang pernah sangat populer di Indonesia. Yos Suprapto menolak permintaan tersebut dan memilih membatalkan seluruh pameran.

“Saya lebih baik membawa pulang semua lukisan ke Yogyakarta daripada menurunkan karya saya,” tegas Yos dalam keterangannya, Jumat (20/12/2024).

Penjelasan Galeri Nasional

Galeri Nasional Indonesia (GNI) menyatakan pembatalan pameran terjadi setelah kurator, Suwarno Wisetrotomo, mengundurkan diri. Melalui akun Instagram resminya, GNI menjelaskan bahwa keputusan ini diambil karena perbedaan pandangan terkait narasi tema pameran.

“Kurator menilai ada dua karya yang tidak sesuai dengan tema yang disepakati. Demi menjaga profesionalisme dan konsistensi narasi pameran, beliau memilih mundur,” tulis GNI.

GNI juga menekankan bahwa keputusan ini merupakan upaya menjaga kualitas pameran agar tetap relevan dengan tema utama. Galeri berkomitmen memberikan informasi lebih lanjut terkait kemungkinan jadwal baru untuk pameran tersebut.

Lukisan Yang Ditolak

Pameran tunggal Yos Suprapto yang mengusung tema “Kebangkitan: Tanah untuk Kedaulatan Pangan,” sedianya digelar pada 19 Desember 2024, harus ditunda. Penundaan ini disebabkan adanya anggapan bahwa karya-karya yang ditampilkan kurang sesuai dengan tema yang diusung.

Dilansir dari laman suara.com, Ketika ditemui di Galeri Nasional, Jakarta Pusat, Yos Suprapto menjelaskan tentang lima lukisannya yang tidak diizinkan untuk dipamerkan. Ia juga memaparkan judul dan makna di balik masing-masing karya tersebut.

1. Konoha 1

Penampakan lukisan karya seniman Yos Suprapto yang batal dipamerkan di Galeri Nasional. (Ist)

Lukisan pertama berjudul Konoha I yang menampilkan seorang raja memakai mahkota Jawa. Ia terlihat duduk di singgasana sambil menginjak orang di bawahnya. Ceritanya sendiri tentang kedaulatan pangan yang hilang oleh kekuasaan.

“Kedaulatan pangan tanpa kekuasaan itu omong kosong. Jadi itu gambar tentang bagaimana kekuasaan memperlakukan rakyat kecil. Segala sesuatu yang menanggung rakyat kecil. Di bawah kaki sang penguasa itu rakyat kecil,” ucap Yos Suprapto kepada wartawan, dikutip Minggu (21/12/2024).

Lebih lanjut, Yos mengatakan bahwa menurut kurator lukisan tersebut terlalu vulgar karena ada raja dengan mahkota Jawa. Padahal, ia tak bermaksud menghina Jokowi, melainkan hanya menggambarkan kedaulatan pangan.

“Di situ ada lukisan bergambar seorang raja, bermahkotakan mahkota Jawa yang menginjak kumpulan orang yang kuat, ekspresi kesakitan,” ujar Yos.

“Kalau enggak ada kekuasaan enggak mungkin. Padahal ini semua adalah kita berbicara soal kedaulatan pangan. Ini karena (tanpa kekuasaan) enggak terjadi. Oleh karena itu ya sudah. Kalau memang begini (dilarang) enggak bisa diteruskan,”lanjutnya.

2. Konoha II

Penampakan lukisan karya seniman Yos Suprapto yang batal dipamerkan di Galeri Nasional. (Suara.com/Fakhri)

Karya selanjutnya menceritakan tentang budaya Asal Bapak Senang yang berjudul Konoha II. Dengan visualisasi menjilat pantat, lukisan tersebut menggambarkan seorang bapak yang dikenal sebagai “penjilat”

“Jadi Asal Bapak Senang itu saya terjemahkan jilat pantat itu. Jilat pantat itu kan ekspresi yang sering kita dengar, ya. Ah, itu (seorang) penjilat. Metaforanya. Ini sering ekspresi yang kita dengar setiap hari kadang-kadang,” terang Yos Suprapto.

Lebih lengkapnya, Konoha II menceritakan tentang masyarakat yang hancur karena adanya budaya hiperindividu. Hal ini, dikatakan oleh Yos, dapat menghasilkan sikap budaya jilat yang tertuang dalam lukisan Asal Bapak senang.

3. Niscaya

Penampakan lukisan karya seniman Yos Suprapto yang batal dipamerkan di Galeri Nasional. (Suara.com/Fakhri)

Selanjutnya, ada lukisan berjudul Niscaya yang menceritakan seorang petani memberi makan orang berdasi. Karya ini menggambarkan kerja keras petani, namun yang bergelimang harta justru orang lain.

“Cerita tentang seorang petani, gambarannya lukisan petani memberi makan kepada orang yang berdasi. Menyuapi makanan di mulutnya orang yang berdasi yang berbaring. Tapi kemudian siapa yang menikmati keringat mereka? Kan, orang-orang urban seperti kita. Orang-orang kaya. Dan itu (lukisan) dilarang juga (untuk dipamerkan),” ujar Yos.

4. Makan Malam

Yos Suprapto berpose dengan karyanya yang diduga tentang kekuasaan Jokowi. [Ist]
Lukisan keempat berjudul Makan Malam yang menunjukkan seorang petani memberi pakan  sejumlah anjing. Gambar ini, jelas Yos, dianalogikan  sebagai umpatan, tepatnya dengan konsep pertanian berkelanjutan.

“Itu dianalogikan sebagai umpatan. Itu fakta, kok. Itu lho. Nah, yang merasa tersinggung dengan simbol-simbol yang saya gunakan ini, itu ngomong katanya tidak ada relevansi dengan pertanian. Bagaimana seorang petani tidak relevan dengan konsep pertanian berkelanjutan,” kata Yos Suprapto.

5. 2019

Penampakan lukisan karya seniman Yos Suprapto yang batal dipamerkan di Galeri Nasional. (Ist)

Terakhir ada lukisan berjudul 2019 yang menggambarkan seorang petani menuntun sapi menuju sebuah istana. Maksud dari karya ini, kata Yos, merupakan realisasi kultur yang tengah dihadapi. Namun, kurator menganggap lukisannya itu terlalu vulgar.

“Petani mana yang tidak bersentuhan dengan peternakan? Petani mana? Itu lho. Jadi ini gambaran real dari kultur yang kita sedang hadapi. Dan saya gambarkan secara eksplisit. Petani membawa sapi yang saya gambarkan, seperti ke istana. Itu dianggap vulgar,” cerita Yos.

Respons Publik dan Dampaknya

Pembatalan ini menuai kekecewaan dari para pengunjung yang sudah menantikan kesempatan menikmati karya Yos Suprapto. Keputusan mendadak tersebut juga memicu perdebatan mengenai kebebasan berekspresi di dunia seni dan batasan kuratorial.

Beberapa pihak menilai pembatalan ini sebagai bentuk pembatasan kreativitas seniman, sementara lainnya mendukung langkah kurator demi menjaga narasi tema yang konsisten.

Tinggalkan Balasan