Pendidikan

Dispusip Pekanbaru Gelar Bimtek Literasi Informasi, Perkuat Kapasitas Guru, Pustakawan dan Pegiat Literasi di Era Digital

0
×

Dispusip Pekanbaru Gelar Bimtek Literasi Informasi, Perkuat Kapasitas Guru, Pustakawan dan Pegiat Literasi di Era Digital

Sebarkan artikel ini

Pekanbaru, (LA) – Pemerintah Kota Pekanbaru melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Pekanbaru menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Literasi Informasi bagi pustakawan, guru, dan pegiat literasi dalam rangka memperingati Hari Jadi Kota Pekanbaru ke-242.

Kegiatan yang berlangsung di Aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Pekanbaru pada 11–13 Mei 2026 tersebut diawali dengan pembukaan oleh pembawa acara, dilanjutkan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Perpustakaan yang dipandu dirigen, serta pembacaan doa.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Pekanbaru, Mhd. Amin, dalam sambutannya mengajak seluruh peserta untuk terus membangun budaya membaca dan menulis sebagai fondasi penguatan literasi masyarakat.

“Ayo menulis, ayo membaca, aku ke perpustakaan, salam literasi,” ujarnya.

Mhd. Amin menegaskan, menulis tidak dapat dipisahkan dari kebiasaan membaca. Menurutnya, menulis dari pemikiran ilmiah harus dibangun melalui konsep yang lahir dari proses membaca dan memahami informasi secara mendalam.

“Menulis dari pemikiran ilmiah itu harus punya konsep. Konsep didapat dari membaca, lalu menulis. Jadi ketika dikaitkan dengan persoalan menulis, membaca, atau yang dikenal dengan literasi, kadang-kadang minat itu masih kurang,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa literasi kerap disalahpahami hanya sebatas aktivitas membaca dan pengelolaan koleksi perpustakaan. Padahal, literasi merupakan kemampuan memahami, menganalisis, dan memanfaatkan informasi untuk membangun masyarakat yang lebih bermakna.

Kepala Dispusip Kota Pekanbaru, MHD. Amin di Aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Pekanbaru Lt. 3 (11/5/2026)

Dalam rangka Hari Jadi Kota Pekanbaru ke-242, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan menghadirkan sejumlah agenda penguatan literasi. Namun, tingginya minat peserta belum sepenuhnya dapat diakomodasi karena keterbatasan anggaran.

“Sebenarnya peserta yang ingin hadir sangat banyak. Namun karena keterbatasan dana yang disediakan Pemerintah Kota Pekanbaru, jumlah peserta yang dapat kami undang sekitar 300 orang,” ungkapnya.

Ia berharap para pegiat literasi mampu menjadi agen perubahan dalam membangun masyarakat yang gemar membaca, belajar, dan terus mengembangkan kemampuan diri.

“Kalau masyarakat tidak mau membaca, tidak mau belajar, tidak mau mengembangkan kemampuan dirinya, maka masyarakat itu akan tertinggal. Membaca adalah jendela dunia yang membuka wawasan dan pengetahuan,” ujarnya.

Mhd. Amin juga menambahkan, pihaknya terus melakukan pembenahan kualitas konten literasi agar program yang berjalan tidak hanya aktif secara kuantitas, tetapi juga berdampak secara substansial.

“Hari ini, di samping kegiatan bimtek, kami juga menyiapkan berbagai lomba dan penguatan konten literasi. Bahkan hadiah-hadiah juga telah kami siapkan. Bekerja di literasi adalah pekerjaan mulia, paling tidak untuk lingkungan terdekat kita, yaitu keluarga,” tambahnya.

Pada sesi materi pertama, narasumber Dr. Suriani, S.Ag, S.S.,M.Si memaparkan materi tentang kebutuhan informasi, strategi penelusuran informasi, serta pemanfaatan sumber informasi digital.

Ia menjelaskan bahwa kebutuhan informasi menurut teori Nicholas dan Herman (2010) terdiri atas tiga kebutuhan dasar manusia, yakni fisiologis, psikologis, dan kognitif.

“Ketika membaca dan memahami, itu menjadi sebuah kebutuhan informasi untuk membentuk sudut pandang yang berdaya analisis,” jelasnya.

Suriani juga memperkenalkan teknik penelusuran informasi menggunakan operator boolean seperti frasa persis, AND, OR, dan NOT untuk mempersempit maupun memperluas hasil pencarian.

Selain itu, peserta dikenalkan dengan Google Syntax, yakni serangkaian operator, karakter, dan perintah khusus untuk menelusuri data secara lebih spesifik, serta pemanfaatan e-resources sebagai sumber informasi elektronik yang kredibel.

Ia turut menjelaskan pentingnya repository institusi, yakni arsip daring yang berfungsi mengumpulkan, melestarikan, dan menyebarluaskan karya ilmiah digital sebuah lembaga, khususnya perguruan tinggi.

Dalam kesempatan itu, peserta juga diperkenalkan dengan OPAC Perpustakaan Tenas Effendy, sistem katalog daring yang dikelola Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Pekanbaru untuk memudahkan masyarakat mencari koleksi buku, mendaftar kartu anggota, serta mengakses informasi literasi secara daring melalui layanan perpustakaan yang berlokasi di Perpustakaan Tenas Effendy.

Sementara pada sesi materi kedua, narasumber Adi Munajar menyoroti tantangan literasi di era digital.

Ia mengingatkan peserta untuk tidak langsung mempercayai informasi yang ditemukan tanpa melakukan verifikasi.

“Kita perlu melakukan klarifikasi sebelum melakukan publikasi. Pada dasarnya seluruh unsur pendidikan dan nilai-nilai kehidupan merujuk pada literasi,” ujarnya.

Menurut Adi, kemampuan membedakan informasi valid dan manipulatif merupakan keterampilan bertahan hidup di era digital 2026, terlebih dengan derasnya arus konten digital serta perkembangan kecerdasan buatan yang mampu menghasilkan konten dalam hitungan detik.

Ia menyebut, literasi bukan sekadar membaca, tetapi juga kemampuan melihat fenomena secara kritis sehingga menghasilkan sudut pandang yang berbeda dan berkualitas.

Dalam tahap awal literasi informasi, peserta diajak memahami pentingnya identifikasi kebutuhan informasi (identifying the need) melalui riset mendalam.

Adi menekankan bahwa informasi adalah aset strategis sebuah negara. Karena itu, setiap kesimpulan harus melalui proses verifikasi yang matang dan tidak dilakukan secara tergesa-gesa.

“Ketika melakukan kesimpulan jangan tergesa-gesa. Verifikasi harus dilakukan terlebih dahulu agar informasi yang disampaikan benar-benar dapat dipertanggungjawabkan,” pungkasnya. (DD)

Tinggalkan Balasan