Pekanbaru (LA) – Kegiatan nonton bareng (nobar) film dokumenter “Pesta Babi” yang diselenggarakan oleh UIN SUSKA Melawan bersama Rabu Damai berlangsung sukses dan dipenuhi antusiasme tinggi dari peserta. Acara yang digelar pada Kamis (14/05) malam di halaman Rektorat UIN Sultan Syarif Kasim (Suska) Riau tersebut berlangsung mulai pukul 20.00 WIB hingga 23.00 WIB dengan jumlah peserta mencapai sekitar 1000 orang.
Sejak awal kegiatan dimulai, suasana di lokasi sudah tampak ramai dan penuh sesak. Halaman rektorat dipenuhi mahasiswa yang duduk berjejer untuk mengikuti jalannya pemutaran film. Tidak hanya dihadiri mahasiswa UIN Suska Riau, kegiatan ini juga diikuti oleh dosen serta berbagai elemen masyarakat sipil yang turut hadir meramaikan agenda tersebut.
Sejumlah komunitas dan organisasi eksternal juga ikut ambil bagian dalam kegiatan ini, termasuk jaringan bantuan hukum seperti LBH serta komunitas lain yang aktif bergerak di bidang sosial dan advokasi. Kehadiran berbagai elemen tersebut menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap ruang-ruang diskusi alternatif yang dikemas melalui medium film dokumenter.
Film “Pesta Babi” yang diputar dalam agenda tersebut menghadirkan gambaran realitas sosial yang memancing refleksi mendalam bagi para penonton. Sepanjang pemutaran berlangsung, peserta tampak fokus mengikuti setiap adegan dan pesan yang disampaikan dalam film, menandakan tingginya perhatian terhadap isu yang diangkat.
Usai pemutaran film, kegiatan dilanjutkan dengan sesi review dan diskusi terbuka. Dalam sesi tersebut, peserta diberikan kesempatan untuk menyampaikan pandangan, kritik, serta analisis terhadap isi film. Diskusi berlangsung aktif dengan berbagai perspektif yang muncul, mulai dari sudut pandang akademis, aktivisme, hingga pengalaman langsung di lapangan.
Beberapa peserta dalam forum diskusi menyoroti pentingnya keberanian dalam mengungkap realitas sosial yang terjadi di masyarakat. Selain itu, mahasiswa juga dinilai memiliki peran penting sebagai agen perubahan yang tidak boleh bersikap apatis terhadap persoalan sosial di sekitarnya. Film dokumenter ini dianggap bukan hanya sebagai hiburan semata, melainkan media refleksi kolektif yang mampu membangun kesadaran kritis.
Pihak penyelenggara menyampaikan bahwa kegiatan nobar dan diskusi tersebut merupakan bagian dari upaya menghadirkan ruang belajar alternatif di luar ruang kelas formal. Mereka berharap agenda seperti ini dapat menjadi wadah konsolidasi gagasan sekaligus memperkuat budaya intelektual di kalangan mahasiswa.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin membangun ruang bersama yang tidak hanya menjadi tempat menonton, tetapi juga ruang berpikir, berdiskusi, dan merumuskan sikap atas realitas yang terjadi,” ujar salah satu panitia dari UIN SUSKA Melawan.
Tingginya jumlah peserta yang hadir dinilai menjadi bukti bahwa gerakan kolektif berbasis kampus dan masyarakat sipil masih memiliki relevansi yang kuat. Keterlibatan mahasiswa, dosen, serta komunitas eksternal memperlihatkan adanya semangat kolaborasi dalam membangun kesadaran sosial secara bersama-sama.
Seluruh rangkaian kegiatan berakhir dengan tertib hingga malam hari. Para peserta membubarkan diri setelah mengikuti diskusi dengan membawa berbagai refleksi dan pemikiran baru dari hasil pemutaran film yang telah berlangsung.
Kegiatan ini diharapkan tidak berhenti sebagai agenda seremonial semata, melainkan mampu menjadi pemantik lahirnya ruang-ruang diskursus kritis lainnya, baik di lingkungan kampus maupun di tengah masyarakat luas.














