Babinsa,Warga dan Pemkam Teluk Alulu Gotong Royong Rawat Sumur 9, Sumber Air Andalan Saat Kemarau Panjang
Maratua, Berau, Kaltim – Babinsa Koramil 0902-08/Maratua, Serka Andi Purnomo, bersama Ketua RT 2 Teluk Alulu, Eko, pemerintah kampung, dan warga melaksanakan gotong royong merawat Sumur 9, salah satu sumber air yang memiliki nilai sejarah sekaligus menjadi sumber air cadangan bagi masyarakat di 4 Rt Kampung Teluk Alulu.Minggu(23/08/26)
Kegiatan gotong royong tersebut dilakukan untuk menjaga dan merawat keberadaan Sumur 9 yang hingga kini masih dimanfaatkan masyarakat, terutama ketika menghadapi musim kemarau panjang.
Bagi warga Teluk Alulu, sumur tersebut memiliki peran penting karena menjadi salah satu sumber air yang dapat diandalkan ketika persediaan air lainnya mulai terbatas.
Ketua RT 2 Teluk Alulu,Pak Eko, menyampaikan bahwa Sumur 9 merupakan warisan leluhur yang dibangun pada tahun 1948. Namun, keberadaan sumber air tersebut diperkirakan telah ditemukan dan dikenal masyarakat sejak masa penjajahan.
“Sumur ini merupakan warisan leluhur. Dibangun pada tahun 1948, tetapi keberadaan sumber airnya diperkirakan sudah ditemukan sejak zaman penjajahan,” ujar Eko.
Menurut Eko, air yang terdapat di Sumur 9 merupakan air payau yang kondisinya mengikuti pasang surut. Airnya memiliki rasa sedikit asin, namun masih dapat dimanfaatkan warga untuk sejumlah kebutuhan rumah tangga, seperti mandi, mencuci pakaian dan mencuci perlengkapan rumah tangga lainnya.
Kondisi tersebut menjadi semakin penting bagi masyarakat dalam beberapa bulan terakhir hingga Agustus 2026, ketika kemarau panjang melanda wilayah Teluk Alulu. Warga memanfaatkan air Sumur 9 untuk mencuci pakaian dan berbagai kebutuhan rumah tangga yang memungkinkan.
Selama ini, warga Teluk Alulu juga banyak mengandalkan air hujan yang ditampung menggunakan tandon untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, ketika musim kemarau berlangsung panjang, persediaan air hujan dalam tandon semakin terbatas.
Untuk memenuhi kebutuhan air yang tidak dapat dipenuhi dari Sumur 9, warga harus membeli pasokan air dari Kampung Teluk Harapan, yang merupakan ibu kota Kecamatan Maratua. Harga air yang harus dibayarkan warga berkisar antara Rp120 ribu hingga Rp150 ribu per tangki.
Kondisi tersebut membuat keberadaan Sumur 9 menjadi sangat berarti bagi masyarakat. Meskipun airnya payau dan sedikit asin, sumber air tersebut tetap membantu meringankan kebutuhan warga, khususnya untuk keperluan mandi dan mencuci.
Babinsa Koramil 0902-08/Maratua, Serka Andi Purnomo, mengajak masyarakat untuk terus menjaga dan merawat Sumur 9 secara bersama-sama. Menurutnya, sumber air tersebut perlu dipelihara karena dapat menjadi cadangan penting bagi masyarakat ketika musim kemarau panjang.
“Sumur ini mari kita rawat bersama-sama, sehingga ketika musim kemarau tiba, bisa menjadi sumber air cadangan bagi masyarakat,” ujar Serka Andi Purnomo.
Gotong royong yang melibatkan Babinsa, Ketua RT, pemerintah kampung dan masyarakat tersebut sekaligus menunjukkan kepedulian bersama dalam menjaga sumber air yang telah menjadi bagian dari kehidupan warga Teluk Alulu selama puluhan tahun.
Dengan perawatan secara berkelanjutan, Sumur 9 diharapkan tetap dapat dimanfaatkan masyarakat, baik sebagai sumber air untuk kebutuhan rumah tangga maupun sebagai sumber air cadangan saat kemarau panjang.
Selain memiliki manfaat bagi kehidupan warga, sumur tersebut juga menjadi bagian dari sejarah dan warisan leluhur masyarakat Teluk Alulu yang perlu dijaga untuk generasi berikutnya.***














