Berita

Serangan Udara Israel Tewaskan Komandan Hizbullah, Ancaman Perang Semakin Dekat

17
×

Serangan Udara Israel Tewaskan Komandan Hizbullah, Ancaman Perang Semakin Dekat

Sebarkan artikel ini
Serangan Israel
Foto: Asap mengepul di atas Lebanon selatan menyusul serangan Israel, di tengah permusuhan lintas perbatasan yang sedang berlangsung antara Hizbullah dan pasukan Israel, seperti yang terlihat dari Tirus, Lebanon selatan, 23 September 2024. (REUTERS/Aziz Taher/CNBC INDONESIA)

JAKARTA (LA) – Ketegangan di Timur Tengah meningkat setelah serangan udara Israel di Beirut menewaskan seorang komandan senior Hizbullah pada hari Selasa (24/9/2024).

Serangan itu terjadi di tengah peningkatan serangan roket lintas batas antara kedua belah pihak, yang memicu kekhawatiran akan terjadinya perang habis-habisan di wilayah tersebut.

Menurut tentara Israel, serangan udara tersebut menargetkan Ibrahim Qubaisi, komandan pasukan roket dan rudal Hizbullah. Dua sumber keamanan di Lebanon mengkonfirmasi bahwa Qubaisi adalah tokoh kunci dalam divisi rudal kelompok yang didukung Iran tersebut.

Sejak Senin pagi, 569 orang, termasuk 50 anak-anak, telah terbunuh dan 1.835 lainnya terluka dalam serangan militer Israel di Lebanon, Menteri Kesehatan Lebanon Firass Abiad mengatakan kepada Al Jazeera. Ribuan pengungsi dari Lebanon selatan kini mencari perlindungan di sekolah-sekolah dan gedung-gedung lainnya.

Di Bir Hassan Technical Institute di Beirut, para sukarelawan membawa air, obat-obatan dan perlengkapan untuk para pengungsi yang baru tiba. Rima Ali Chahine, seorang wanita berusia 50 tahun, mengatakan bahwa tempat penampungan tersebut menyediakan popok, roti dan susu untuk anak-anak.

“Ini adalah beban besar bagi orang dewasa dan anak-anak. Mereka kelelahan dan stres. Mereka tidak bisa tidur,” katanya. “Anak-anak – mereka hidup dalam kondisi yang mengerikan.

Serangan terbaru Israel terhadap Hizbullah telah menimbulkan kekhawatiran bahwa konflik antara Israel dan Hamas di Jalur Gaza, yang telah berlangsung selama hampir satu tahun, dapat semakin memperburuk situasi di Timur Tengah. Dewan Keamanan PBB akan bertemu pada hari Rabu (25 September 2020) untuk membahas eskalasi konflik tersebut.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres memperingatkan bahwa Lebanon berada di ambang krisis besar.

“Lebanon berada di ambang krisis. Rakyat Lebanon, rakyat Israel, dan masyarakat dunia tidak dapat membiarkan Lebanon menjadi Gaza berikutnya,” kata Guterres seperti dilansir dari cnbcindonesia.com.

Sementara itu, di PBB, Presiden AS Joe Biden mencoba meredakan ketegangan di Timur Tengah. “Tidak ada yang diuntungkan dari perang habis-habisan. Meskipun situasi telah meningkat, solusi diplomatik masih memungkinkan,” katanya kepada 193 anggota Majelis Umum PBB.

Lebanon Meminta Bantuan AS

Menteri Luar Negeri Lebanon Abdallah Bou Habib menyebut pidato Biden “tidak cukup kuat dan tidak menjanjikan”, tetapi mengakui bahwa AS adalah satu-satunya negara yang benar-benar dapat membuat perbedaan di Timur Tengah. “Amerika Serikat adalah kunci untuk keselamatan kita,” katanya dalam sebuah acara yang diselenggarakan oleh Carnegie Endowment for International Peace di New York.

Diperkirakan setengah juta orang telah mengungsi di Lebanon sebagai akibat dari konflik tersebut. Bou Habib juga mengumumkan bahwa perdana menteri Lebanon akan bertemu dengan perwakilan AS dalam beberapa hari mendatang untuk mendiskusikan situasi ini.

AS bekerja sama dengan mediator-mediator lain, termasuk Qatar dan Mesir, dalam usaha yang sejauh ini belum berhasil untuk menegosiasikan gencatan senjata antara Israel dan Hamas yang berafiliasi dengan Hizbullah di Jalur Gaza.

Tentara Israel mengatakan pada hari Selasa bahwa angkatan udaranya juga telah melakukan serangan ekstensif terhadap target-target Hizbullah di Lebanon selatan, termasuk depot-depot senjata dan puluhan peluncur roket yang ditujukan ke wilayah Israel.

Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant mengatakan bahwa serangan-serangan ini telah melemahkan Hizbullah dan akan terus berlanjut.

“Hizbullah telah mengalami serangkaian pukulan terhadap struktur komando dan kontrolnya, para pejuang dan aset tempurnya. Semua ini merupakan pukulan yang sangat berat,” katanya kepada militer Israel.

Hizbullah mengatakan pada hari Selasa bahwa mereka telah menembakkan roket ke pangkalan militer Dado di Israel utara dan menyerang pangkalan angkatan laut Atlit di selatan Haifa dengan pesawat tak berawak dan target-target lainnya.

Gallant menuduh PBB gagal mencegah serangan Hizbullah terhadap Israel.

Sementara itu, sebuah serangan rudal yang diduga dilakukan Israel ke kota pelabuhan Suriah, Tartus, berhasil dicegat oleh pertahanan udara Suriah, namun militer Israel menolak untuk mengomentari laporan tersebut.

Konflik antara Israel dan Hamas di Jalur Gaza, yang telah berlangsung sejak Oktober, juga telah menyebabkan kampanye udara Israel yang semakin intensif terhadap kelompok-kelompok bersenjata yang didukung Iran dan perdagangan senjata mereka di Suriah.

Tinggalkan Balasan