PEKANBARU (LA) – Musik Calempong merupakan salah satu kesenian tradisional masyarakat Melayu yang berkembang pesat di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau. Calempong dikenal sebagai musik tradisional dengan irama khas yang kerap dimainkan dalam berbagai kegiatan adat masyarakat setempat.
Bunyi alat musik ini berasal dari pukulan pada logam kecil berbentuk gong yang menghasilkan nada-nada harmonis. Musik Calempong menjadi bagian penting dari identitas budaya Melayu karena diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi.
Sejarah dan Perkembangan
Dikutip dari Balai Pelestarian Nilai Budaya Kepulauan Riau, sejarah musik Calempong diperkirakan berasal dari pengaruh budaya Minangkabau dan Melayu yang berkembang melalui hubungan perdagangan serta interaksi masyarakat di wilayah Sumatra. Dalam perkembangannya, masyarakat Kuansing mengolah musik ini menjadi ciri khas daerah mereka sendiri.
Dahulu, Calempong dimainkan sebagai hiburan rakyat dan pengiring upacara adat kerajaan. Seiring waktu, musik ini semakin dikenal dan menjadi simbol kebudayaan tradisional dengan nilai seni tinggi.
Alat Musik dan Cara Memainkan
Alat musik yang digunakan dalam pertunjukan Calempong terdiri dari:
· Calempong/telempong – alat musik pokok
· Gondang (gendang) – pengatur irama
· Oguang (gong) – penanda bagian lagu
Calempong dimainkan dengan cara dipukul menggunakan pemukul kayu untuk menghasilkan nada tertentu. Dalam satu kelompok pertunjukan biasanya dimainkan oleh sekitar 5 hingga 10 orang, tergantung kebutuhan acara dan jumlah alat musik yang digunakan.
Fungsi Sosial dan Budaya
Musik Calempong biasanya mengiringi berbagai kegiatan adat, seperti:
· Acara pernikahan adat
· Penyambutan tamu kehormatan
· Festival budaya
· Pacu Jalur
· Khitanan
· Perayaan hari besar daerah
Selain sebagai hiburan, musik Calempong juga menjadi sarana mempererat hubungan sosial masyarakat karena dimainkan secara bersama-sama. Irama yang semangat dan meriah membuat suasana acara menjadi lebih hidup.
Tantangan dan Upaya Pelestarian
Di era modern, musik Calempong menghadapi berbagai tantangan, seperti menurunnya minat generasi muda serta semakin sedikitnya jumlah pemain dan pengrajin alat musik tradisional.
Namun demikian, masyarakat dan pemerintah daerah terus berupaya melestarikan kesenian ini melalui festival budaya, pendidikan seni di sekolah, dan pertunjukan daerah. Harapannya, musik Calempong tetap dikenal, dicintai, dan diwariskan kepada generasi mendatang sebagai warisan budaya Melayu yang membanggakan. (NM)I














