Berita

Bumiayu: Kawasan Penemuan Prasejarah yang Kini Jadi Pusat Ekskavasi Nasional

39
×

Bumiayu: Kawasan Penemuan Prasejarah yang Kini Jadi Pusat Ekskavasi Nasional

Sebarkan artikel ini
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Laksana Tri Handoko saat meresmikan KSL Bumiayu pada Sabtu, (26/4/2025) (Foto:BRIN)

Brebes, (LA) – Wilayah selatan Kabupaten Brebes, khususnya di Kecamatan Bumiayu, Tonjong, dan Bantar Kawung, terus menjadi perhatian arkeolog. Kawasan ini menyimpan potensi besar sebagai jejak peradaban manusia prasejarah. Guna mengungkap fakta sejarah tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kini menetapkan Kawasan Stasiun Lapangan (KSL) Bumiayu sebagai pusat riset arkeologi berskala besar.

Kawasan Stasiun Lapangan (KSL) Bumiayu: Fasilitas Modern untuk Riset

BRIN telah melengkapi KSL Bumiayu dengan fasilitas unggulan yang dirancang untuk mendukung penelitian arkeologi, di antaranya:

  1. Ruang Workshop 2D/3D
    Digunakan untuk casting, eksperimentasi, dan rekonstruksi artefak.
  2. Field Laboratory
    Meliputi laboratorium konservasi, paleontologi, sedimen, dan traseologi.
  3. Field Storage
    Disediakan untuk menyimpan ekofak dan sedimen dengan standar keamanan tinggi.
  4. Fasilitas Pendukung
    Terdiri dari asrama (dormitory) dan ruang kelas untuk mahasiswa serta periset.

Ekskavasi Jangka Panjang dan Dukungan Masyarakat Lokal

Menurut Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko, ekskavasi di Bumiayu adalah salah satu proyek riset terbesar dan terpanjang di Indonesia, direncanakan berlangsung selama 7-10 tahun.

“Ekskavasi ini menjadi bukti komitmen kami untuk mengungkap sejarah peradaban manusia prasejarah di Indonesia,” ujar Handoko.

Dukungan masyarakat Dusun Maribaya di Kecamatan Bumiayu juga menjadi kunci kelancaran riset ini. Warga setempat mendukung para peneliti dalam berbagai aktivitas, dari survei hingga ekskavasi.

Kolaborasi Nasional dan Internasional

Proyek ini melibatkan SDM dari berbagai latar belakang, termasuk:

  • Peneliti BRIN.
  • Dosen dan mahasiswa dari universitas di dalam maupun luar negeri.
  • Peneliti pasca-doktoral dan visiting researcher.

Handoko menegaskan bahwa BRIN berfokus pada riset hulu, sementara hilirnya akan menjadi tanggung jawab Kementerian Kebudayaan.

Masa Depan Penelitian Arkeologi di Indonesia

Bumiayu hanyalah permulaan. BRIN berencana melakukan ekskavasi di lokasi lain di Indonesia yang memiliki potensi warisan budaya.

“Jika ekskavasi di Bumiayu selesai dan data saintifik telah terbukti, hasilnya akan kami serahkan kepada Kementerian Kebudayaan untuk dipublikasikan lebih luas,” pungkas Handoko.

Dengan fasilitas modern dan kolaborasi lintas institusi, Bumiayu kini menjadi ikon riset arkeologi nasional sekaligus saksi bisu perjalanan peradaban manusia prasejarah di Nusantara.

Tinggalkan Balasan