Nasional

KKP Gencarkan Budidaya Rumput Laut untuk Bangkitkan Ekonomi Kepulauan Seribu

Avatar
25
×

KKP Gencarkan Budidaya Rumput Laut untuk Bangkitkan Ekonomi Kepulauan Seribu

Sebarkan artikel ini

JAKARTA, (LA) – Budidaya rumput laut yang pernah berjaya di Kepulauan Seribu mengalami kemunduran akibat berbagai faktor, salah satunya serangan penyakit ice-ice. Kini, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) berupaya membangkitkan kembali sektor ini dengan percontohan budidaya rumput laut di Pulau Kongsi, melibatkan masyarakat setempat sebagai langkah pengembangan sumber daya manusia (SDM) sekaligus membuka kembali peluang ekonomi berbasis kelautan.

Smart Fisheries Village: Inovasi di Pulau Kongsi

Program percontohan ini dilakukan di SMART Fisheries Village (SFV) yang dikembangkan oleh Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BPPSDM) KKP melalui Balai Riset Perikanan Laut (BRPL). Kepala BPPSDM I Nyoman Radiarta menjelaskan bahwa SFV bertujuan untuk meningkatkan SDM melalui pendidikan, pelatihan, dan penyuluhan, serta menjadi inkubator bisnis kelautan dan perikanan.

“Konsep SFV digunakan sebagai sarana pengembangan SDM serta inkubasi bisnis untuk mencetak startup di bidang kelautan dan perikanan,” tutur Nyoman.

Kepala BRPL Luthfi Assadad menambahkan bahwa zonasi di Kepulauan Seribu telah bergeser, dengan bagian selatan diarahkan untuk jasa, ekonomi, dan perdagangan. Hal ini menyebabkan lahan budidaya rumput laut berkurang, sehingga diperlukan inovasi agar masyarakat tetap dapat menjalankan budidaya secara optimal.

Sebagai solusi, Pokdakan Cottoni Jaya dari Pulau Pari digandeng dalam proyek ini. Program ini mengacu pada SNI Budidaya Rumput Laut, mulai dari pemilihan lokasi, seleksi bibit, metode budidaya, hingga pascapanen agar hasil produksi meningkat dan bernilai tambah.

Produksi Meningkat, Petani Rumput Laut Bangkit

Ketua Pokdakan Cottoni Jaya, Hanafi, mengungkapkan bahwa sepanjang tahun 2024, mereka berhasil memproduksi 8,8 ton rumput laut kering. Berkat pendampingan SFV Pulau Kongsi, mereka optimis produksi akan terus meningkat meski menghadapi tantangan pergeseran tata guna lahan.

Hal senada disampaikan Tommi Susilo Utomo Lamanepa, Penyuluh Perikanan Kepulauan Seribu. Ia menyebut bahwa sejak adanya SFV Pulau Kongsi, masyarakat Pulau Pari semakin semangat dalam menjalankan usaha budidaya rumput laut.

“Penyuluhan semakin menarik karena masyarakat mendapatkan pengetahuan baru mengenai teknik budidaya yang lebih efisien,” ujarnya.

Ajang Pembelajaran bagi Mahasiswa

Selain untuk masyarakat, SFV Pulau Kongsi juga menjadi pusat pembelajaran bagi mahasiswa dari berbagai kampus di Indonesia. Tahun 2024, tercatat 19 mahasiswa dari enam kampus mengikuti magang di Pulau Kongsi. Jumlah ini meningkat pada Maret 2025, dengan 29 mahasiswa dari tujuh kampus menyelesaikan magang di sana.

Mahasiswa dari Universitas Brawijaya dan Universitas Nahdlatul Ulama Purwokerto meneliti teknik budidaya rumput laut, sementara mahasiswa dari Universitas Jenderal Soedirman, Politeknik Kelautan dan Perikanan Pangandaran, serta Institut Teknologi Sumatera Lampung meneliti pengaruh kualitas air terhadap pertumbuhan rumput laut.

Harapan dan Masa Depan Budidaya Rumput Laut

Menurut Luthfi, percontohan budidaya rumput laut ini diharapkan dapat menjadi sarana penyuluhan, pembelajaran bagi mahasiswa, serta diseminasi teknologi kepada masyarakat.

Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menekankan pentingnya penguatan ekonomi masyarakat pesisir melalui budidaya berkelanjutan yang ramah lingkungan. Dengan adanya SFV, masyarakat di Kepulauan Seribu diharapkan dapat kembali menjadikan budidaya rumput laut sebagai sumber ekonomi yang menjanjikan.

Tinggalkan Balasan