Opini: Bastian Ketua FKPPI Kalimantan Timur
Berau(L.A) Kalimantan Timur – Pengembangan sektor pariwisata di Kabupaten Berau tidak dapat dilepaskan dari sejarah dan identitas budaya masyarakatnya. Pariwisata yang kuat bukan hanya soal keindahan alam, tetapi tentang bagaimana sebuah daerah mampu menampilkan jati dirinya secara otentik.Di Berau, identitas itu telah lama hidup dan dikenal dalam konsep Babada.
Babada bukan sekadar istilah budaya, melainkan representasi sejarah, ruang hidup, dan peradaban masyarakat Berau yang terbentuk dari tiga unsur utama, yakni Bajau, Banua, dan Dayak. Ketiga unsur ini bukan untuk dipertentangkan, melainkan dipadukan secara proporsional sesuai dengan konteks wilayah dan karakter geografisnya. Inilah fondasi utama yang seharusnya menjadi arah kebijakan pembangunan pariwisata Berau.
Secara historis dan sosiologis, wilayah tengah Kabupaten Berau, khususnya kawasan perkotaan dan sekitarnya, tumbuh dengan dominasi budaya Banua. Nilai-nilai Banua tercermin dalam tata sosial, adat, bahasa, dan tradisi masyarakat kota.
Identitas inilah yang semestinya dimunculkan di pusat-pusat aktivitas wisata perkotaan, baik melalui arsitektur, ornamen, festival budaya, hingga penyelenggaraan kegiatan seni yang berakar pada budaya Banua.
Sementara itu, wilayah hulu Berau memiliki karakter budaya yang kuat dari masyarakat Dayak. Seni tari, musik tradisional, ukiran, ritual adat, serta filosofi hidup masyarakat Dayak merupakan kekayaan budaya yang tidak ternilai.














