Wisata

Forum Komunikasi Pegiat Wisata Maratua Soroti Chamber Hyperbaric dan Infrastruktur Layanan Wisata Maratua

Avatar
19
×

Forum Komunikasi Pegiat Wisata Maratua Soroti Chamber Hyperbaric dan Infrastruktur Layanan Wisata Maratua

Sebarkan artikel ini

FKPWM Soroti Chamber Hyperbaric dan Infrastruktur Layanan Wisata Maratua

Berau,Kaltim-( L.A)— Pertemuan yang berlangsung pada Sabtu malam (11/04/26) di Warkop payung-payung  menjadi momentum penting bagi para pelaku wisata yang tergabung dalam Forum Komunikasi Pegiat Wisata Maratua (FKPWM) untuk menyuarakan berbagai persoalan mendasar di sektor pariwisata.

Forum yang terdiri dari warga, guide lokal, dan pelaku usaha wisata ini menyampaikan langsung sejumlah kegelisahan yang selama ini dirasakan di lapangan.

Mulai dari aspek keselamatan, infrastruktur, hingga kualitas layanan dinilai belum mendapat perhatian maksimal.

Salah satu sorotan utama adalah tidak berfungsinya fasilitas hyperbaric chamber sejak tahun 2016 hingga 2026, Fasilitas tersebut dinilai sangat krusial, tidak hanya bagi keselamatan penyelam, tetapi juga sebagai fasilitas umum bagi masyarakat Kabupaten Berau.

Hyperbaric chamber merupakan alat terapi medis yang memiliki manfaat luas, di antaranya untuk penanganan penyakit akibat penyelaman (decompression sickness), mempercepat penyembuhan luka, membantu terapi gangguan pernapasan, hingga meningkatkan suplai oksigen dalam tubuh pada kondisi medis tertentu.

Dengan fungsi yang begitu penting, keberadaan alat ini seharusnya menjadi bagian dari layanan kesehatan strategis, khususnya di wilayah kepulauan seperti Maratua.

“Fasilitas yang mangkrak ini menjadi sorotan warga dan penyelam di baik Maratua dan Derawan adalah destinasi wisata selam. Tapi fasilitas keselamatan justru tidak berfungsi,” ungkap salah satu peserta forum.

Selain itu, keterbatasan jaringan telekomunikasi dan internet juga menjadi perhatian serius. Koneksi yang belum merata dan tidak stabil dinilai menghambat komunikasi, promosi wisata digital, serta penanganan kondisi darurat.

Permasalahan lingkungan turut menjadi pembahasan, khususnya pengelolaan sampah yang belum optimal hingga berdampak pada pencemaran laut dan menurunkan kenyamanan wisatawan.

Di sektor transportasi, keterbatasan kendaraan wisata seperti mobil dan bus juga dinilai menghambat mobilitas wisatawan dan menurunkan kualitas layanan secara keseluruhan.

FKPWM juga menyoroti pentingnya peningkatan kapasitas sumber daya manusia, khususnya bagi para guide lokal. Minimnya pelatihan dan sertifikasi dinilai memengaruhi profesionalitas serta daya saing dalam industri pariwisata.

Sementara itu, fasilitas toilet di kawasan transit Kasai menjadi perhatian khusus. Minimnya fasilitas yang layak dinilai mengurangi kenyamanan wisatawan, sehingga diperlukan pembangunan toilet umum yang bersih, representatif, serta dikelola secara berkelanjutan.

Tambahan poin penting lainnya adalah kondisi Jembatan Lawang-Lawang yang dinilai perlu segera mendapatkan perbaikan menyeluruh.

Jembatan tersebut merupakan salah satu titik favorit wisatawan untuk menikmati matahari terbit dan aktivitas nelayan, sehingga aspek keamanan dan kelayakan menjadi hal yang tidak bisa diabaikan.

Melalui forum ini diharapkan menjadi awal dari solusi konkret terhadap berbagai persoalan yang telah lama terjadi.

FKPWM menegaskan bahwa pelaku wisata merupakan garda terdepan yang memahami kondisi riil di lapangan.

Oleh karena itu, keseriusan dan keberpihakan pemerintah daerah dinilai menjadi kunci dalam menjaga serta mengembangkan potensi besar pariwisata Maratua secara berkelanjutan demi kesejahteraan masyarakat lokal.***

Tinggalkan Balasan