Menurutnya, perubahan tersebut merupakan dinamika global yang harus disikapi secara adaptif dan terbuka oleh seluruh pemangku kepentingan pendidikan. “Hal-hal yang dahulu tidak pernah kita bayangkan dalam dunia pendidikan, kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Inilah realitas perkembangan zaman,” tegas Syafrian Tommy.
Kegiatan workshop dipandu oleh Muhammad Sonata Dena Sadewa selaku moderator. Dalam pengantarnya, ia menyampaikan bahwa workshop ini dirancang tidak hanya sebagai forum peningkatan kompetensi, tetapi juga sebagai ruang kolaborasi dan pembelajaran yang menyenangkan bagi para peserta.
Sementara itu, dalam sesi pemaparan materi, narasumber menjelaskan bahwa workshop ini berlandaskan pada pendekatan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) sebagai kerangka utama transformasi pembelajaran digital di jenjang SMP.
Narasumber menegaskan bahwa pendekatan STEM tidak terbatas pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), melainkan dapat diintegrasikan ke seluruh mata pelajaran. Hal ini sejalan dengan karakteristik pembelajaran IPA di SMP yang masih bersifat terpadu.
“Melalui pendekatan STEM, guru diharapkan mampu memahami keterkaitan antara sains, teknologi, rekayasa, dan matematika dengan konteks mata pelajaran yang diampu, sehingga pembelajaran menjadi lebih aplikatif dan kontekstual,” jelasnya.
Peserta workshop juga diajak mengenali komponen-komponen STEM serta relevansinya dalam pengembangan pembelajaran koding dan kecerdasan artifisial di sekolah. Untuk mendukung pemahaman, panitia menyediakan berbagai materi pendukung yang dapat diakses peserta melalui pemindaian barcode yang telah disiapkan.














