Nasional

Viral di TikTok, Festival Pacu Jalur Kuansing Jadi Magnet Global: Aura Farming Bocah Pendayung Curi Perhatian Dunia

69
×

Viral di TikTok, Festival Pacu Jalur Kuansing Jadi Magnet Global: Aura Farming Bocah Pendayung Curi Perhatian Dunia

Sebarkan artikel ini

Kuansing, (LA) – Festival Pacu Jalur, tradisi mendayung perahu panjang khas Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, kini mendunia. Perhelatan budaya yang saban Agustus digelar di Tepian Narosa, Taluk Kuantan, ini mendadak viral di TikTok lewat tren Aura Farming. Bocah-bocah pendayung yang tampil penuh percaya diri, diiringi lagu “Young Black & Rich” karya Melly Mike, sukses memikat jutaan warganet lintas negara.

Pacu Jalur dan Aura Farming: Ketika Tradisi Bertemu Tren Digital

Fenomena Aura Farming, yang pertama kali dikenal luas pada September 2024 lewat platform Know Your Meme, mengacu pada individu yang mampu memancarkan aura “tokoh utama”. Dalam Pacu Jalur, bocah pendayung dengan gerakan lincah dan ekspresi penuh konsentrasi menjadi simbol main character energy yang dikagumi pengguna internet global.

“Ini bukti bahwa budaya lokal kita punya daya tarik universal,” ujar Kadispar Riau Haji Roni Rakhmat, Rabu (2/7/2025).

Warisan Budaya yang Tumbuh dari Sungai Kuantan

Secara etimologis, “pacu” berarti lomba dan “jalur” merujuk pada perahu panjang tradisional. Pacu Jalur bukan sekadar perlombaan, tapi ritual budaya yang hidup sejak era kolonial. Dulu, jalur digunakan sebagai alat transportasi air untuk mengangkut hasil bumi dan penumpang. Kini, perahu sepanjang 40 meter itu berubah menjadi simbol kebanggaan daerah dan alat pemersatu masyarakat.

Dalam festival, satu jalur diawaki oleh 50–60 orang, dengan peran mulai dari tukang concang (komando), tukang pinggang (kemudi), tukang tari (pengiring ritme), hingga tukang onjay (pembantu keseimbangan). Perlombaan dimulai dengan dentuman tiga kali meriam karbit, memecah keheningan di antara ribuan penonton.

Gotong Royong dan Nilai Sakral

Setiap jalur dibangun secara swadaya oleh masyarakat, dengan biaya mencapai Rp100 juta per unit. Pembuatan jalur diiringi ritual adat, mulai dari pemilihan kayu, penarikan perahu dari hutan, hingga prosesi spiritual oleh pawang atau dukun.

“Pacu Jalur bukan sekadar olahraga. Ini adalah seni, sejarah, dan olah batin dalam satu tarikan mendayung,” kata Haji Roni.

Dari Tradisi Lokal ke Panggung Global

Viralnya Pacu Jalur di media sosial membuat tradisi ini menjadi fenomena global. Warganet luar negeri mengunggah meme dan video parodi pendayung cilik, menjadikan Pacu Jalur sebagai simbol coolness baru yang lahir dari desa.

Tren ini menumbuhkan rasa bangga dan kesadaran baru di kalangan masyarakat akan pentingnya menjaga warisan budaya. Bahkan pada 2022, ilustrasi Pacu Jalur karya Wastana Haikal dipilih sebagai Google Doodle untuk Hari Kemerdekaan Indonesia.

Dukungan Pemerintah dan Hadiah Fantastis

Pacu Jalur juga menjadi agenda unggulan Kharisma Event Nusantara Kemenparekraf. Tahun 2024 lalu, festival ini berlangsung 21–25 Agustus, melibatkan 225 jalur dari berbagai daerah.

Pemerintah Provinsi Riau menggelontorkan Rp575 juta untuk hadiah juara. Pemenang pertama mendapat Rp70 juta, disusul juara dua Rp60 juta, dan juara tiga Rp50 juta. Sementara juara 7 hingga 15 masing-masing mendapat Rp10 juta.

Menjaga Tradisi, Menjemput Dunia

Kini, Pacu Jalur tidak hanya ditunggu sebagai pesta rakyat lokal, tapi juga dinanti netizen global. Dengan dukungan digital dan semangat muda, tradisi yang lahir dari jeram Sungai Batang Kuantan ini mengalir deras menuju panggung internasional.

“Ini momentum emas untuk menjadikan Riau sebagai destinasi budaya kelas dunia,” tutup Haji Roni dengan optimistis.

Tinggalkan Balasan