Budaya

Festival Perahu Baganduang 2025: Warisan Budaya Kuansing yang Mengalirkan Nilai, Tradisi, dan Harapan

54
×

Festival Perahu Baganduang 2025: Warisan Budaya Kuansing yang Mengalirkan Nilai, Tradisi, dan Harapan

Sebarkan artikel ini
Wabup H Muklisin bersama Ketua DPRD H Juprizal SE MSi, Kadis Budpar Drs Azhar MM melambai tangan dari atas Perahu Baganduang, Sabtu (5/4/2025) di Tepian Muko Lobuah Lubuk Jambi, Kuantan Mudik (istimewa)

KUANTAN MUDIK, (LA) – Dentuman meriam dan bunyi petasan bersahutan di atas Sungai Kuantan, menandai kemeriahan Festival Perahu Baganduang yang kembali dihelat pada Sabtu (5/4/2025). Tradisi turun-temurun masyarakat Kenegerian Lubuk Jambi, Kecamatan Kuantan Mudik, ini kembali menyatukan budaya, adat, dan semangat kebersamaan dalam satu perahu besar yang dirangkai dari tiga jalur, dihiasi gulang-gulang berwarna-warni.

Dilansir dari laman riaupos.co, Ribuan masyarakat memadati tepian Sungai Kuantan dan Jembatan Lubuk Jambi untuk menyaksikan festival tahunan yang kini telah menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) milik Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing).

1. Tradisi Leluhur yang Sarat Makna

Festival Perahu Baganduang bukan sekadar pertunjukan budaya, tapi cerminan nilai-nilai luhur yang diwariskan dari generasi ke generasi.

• Asal Usul Tradisi: Dahulu perahu baganduang digunakan para raja sebagai alat transportasi. Seiring waktu, tradisi ini berkembang sebagai sarana membawa limau oleh para pemuda kepada calon mertua pada pagi hari raya, beriringan dengan tradisi mandi balimau sebagai simbol penyucian diri.

• Makna Simbolik: “Ini bukan hanya hiburan, tetapi juga pendidikan moral dan etika bagi generasi muda,” ujar tokoh adat Dr H Edianus Herman Halim.

2. Kehadiran Tokoh-Tokoh dan Dukungan Pemerintah

Festival tahun ini diikuti oleh 16 perahu dari berbagai desa, dihadiri oleh jajaran pimpinan daerah dan tokoh masyarakat.

• Tamu Kehormatan: Wakil Bupati Kuansing H Muklisin, Ketua DPRD Juprizal, Pj Sekda dr Fahdiansyah, serta Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Azhar turut hadir dan melambaikan tangan dari atas perahu utama.

• Perempuan Berperan: Ketua PKK Hj Yulia Herma, Ketua GOW Hj Nurhidayah Muniroh, dan Ketua Dharma Wanita Ny Fahdiansyah juga ikut serta, menegaskan peran perempuan dalam pelestarian budaya.

3. Komitmen Pelestarian: Dari Festival Menuju Destinasi Wisata Budaya

Pemerintah Kabupaten Kuansing menyatakan komitmen penuh dalam menjaga eksistensi tradisi ini agar dikenal secara nasional maupun internasional.

• Penataan Kawasan Budaya: Wabup Muklisin meminta agar tanah lokasi festival dihibahkan ke Pemkab, guna mempermudah proses penataan dan pembenahan balai adat sebagai pusat kegiatan.

• Dukungan Anggaran: Ketua DPRD Juprizal berjanji akan mengawal penganggaran apabila legalitas hibah tanah diselesaikan.

4. Warisan untuk Generasi Muda

Festival ini bukan hanya panggung seni budaya, tetapi juga wahana edukasi yang sarat pembentukan karakter bagi generasi penerus.

• Modal Sosial Anak Muda: “Generasi Kuansing harus tahu asal muasal budayanya. Ini akan menjadi bekal saat mereka menjadi pemimpin masa depan,” kata Edianus.

• Keterlibatan Kolektif: Semua lapisan masyarakat diajak bersatu menjaga keberlangsungan tradisi ini sebagai identitas budaya Kuansing.

Festival Perahu Baganduang tahun 2025 membuktikan bahwa nilai budaya yang kuat akan selalu menemukan jalannya untuk terus hidup dan berkembang. Di antara riak air Sungai Kuantan, berkumandang pesan lestari: bahwa tradisi bukan sekadar masa lalu, tetapi jembatan emas menuju masa depan.

Tinggalkan Balasan