Berita

APHI Riau: Hutan Jadi Penopang Ekonomi dan Ekosistem, Media Punya Peran Penting

27
×

APHI Riau: Hutan Jadi Penopang Ekonomi dan Ekosistem, Media Punya Peran Penting

Sebarkan artikel ini
Ketua APHI Riau, Muller Tampubolon menyerahkan piagam penghargaan saat APHI Riau Editor Circle 2025, Senin (8/9/2025). Foto: RRI - Tongku

PEKANBARU (LA) – Industri kehutanan di Riau terus menunjukkan kontribusi nyata, baik dalam menggerakkan perekonomian daerah maupun menjaga kelestarian lingkungan. Ketua Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) Riau, Muller Tampubolon, menyebut sektor kehutanan bukan hanya penopang ekonomi, melainkan juga penyeimbang ekosistem.

“Banyak keberhasilan dan inovasi perusahaan yang sudah berjalan, namun belum sepenuhnya tersampaikan ke publik. Media berperan penting sebagai jembatan informasi sekaligus penguat literasi masyarakat,” ujarnya dalam pembukaan APHI Editor Circle 2025 yang digelar bersama Bisnis Indonesia dan APHI Riau, Senin (8/9/2025).

Dalam tiga tahun terakhir, perusahaan pemegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) di Riau telah menyumbang Rp318,56 miliar ke negara melalui Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Setiap tahun, industri ini juga menggelontorkan rata-rata Rp80 miliar untuk program tanggung jawab sosial (CSR) dan Rp35 miliar untuk kemitraan dengan lebih dari 120 desa.

Dari sisi investasi, dengan areal tanaman mencapai 1 juta hektare, industri kehutanan di Riau menanam dan memanen ulang sekitar 180.000 hektare per tahun. Rata-rata investasi mencapai Rp20 juta per hektare, sehingga totalnya menembus Rp3,3 triliun per tahun.

Dukungan Program Lingkungan dan Desa

Kepala Bidang Penegakan Hukum DLHK Riau, Agus Suryoko, mengajak semua pihak menjaga kelestarian hutan. “Hutan bagian penting dalam tata kelola lingkungan. Mari samakan persepsi tentang fungsi hutan secara lestari agar tetap bermanfaat bagi masyarakat dan usaha,” ujarnya.

Sementara itu, Program Desa Makmur Peduli Alam (DMPA) yang digagas Asia Pulp & Paper (APP) telah diimplementasikan di 206 desa di Riau dengan anggaran Rp26,05 miliar. Program ini melibatkan 14.214 kepala keluarga, 50 UMKM, 33 kelompok perempuan, dan 200 Bumdes, sekaligus berhasil menekan kebakaran hutan hingga 90% di wilayah dampingan.

Dari pihak APRIL Group, PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) menegaskan komitmennya menjalankan Sustainable Forest Management Policy 2.0 (SFMP) sejak 2015. RAPP juga mengelola lebih dari 150.000 hektare hutan rawa gambut tropis melalui Restorasi Ekosistem Riau (RER). “Pada 2024, salah satu capaian besar adalah pencegahan penebangan liar yang dulu menjadi ancaman utama,” ujar Addriyanus Tantra, Sustainability Operations Manager RAPP.

Tantangan dan Arah ke Depan

Meski banyak capaian positif, Kepala Balai Pengelolaan Hutan Lestari (BPHL) Wilayah III Pekanbaru, Fifin Arfiana Jogasara, menyoroti masih adanya tumpang tindih izin unit usaha yang berimbas pada rendahnya produktivitas.

“Situasi ini harus diantisipasi. Dunia usaha penting berbagi ruang dengan pihak lain, termasuk skema perhutanan sosial dan masyarakat yang sudah lama hidup di kawasan hutan,” jelasnya.

Forum APHI Editor Circle 2025 sendiri diharapkan menjadi wadah dialog antara pelaku usaha, pemerintah, dan media. Selain memperkuat pemahaman publik, forum ini juga menekankan pentingnya membangun narasi konstruktif mengenai keseimbangan pembangunan ekonomi dan kelestarian lingkungan di Bumi Lancang Kuning.

Tinggalkan Balasan