Berau, Kalimantan Timur (Aktivis.co.id)Keindahan Laut Maratua terus mengundang penyelam dari berbagai penjuru dunia. Namun di balik gemerlap pariwisata selam itu, terdapat celah keselamatan yang hingga kini belum tertutup.
Diving Decompression Chamber (DDC), alat vital penentu hidup dan mati penyelam, belum juga difungsikan. Bukan karena alat tidak tersedia, melainkan karena ketiadaan sumber daya manusia (SDM) yang berwenang mengoperasikannya.
Kondisi ini menjadi kegelisahan serius para penyelam profesional dan pemandu selam bersertifikat di Maratua. Mereka menilai, membiarkan fasilitas keselamatan tanpa operator sama artinya dengan membiarkan risiko fatal terus mengintai setiap penyelaman.
“Alatnya ada, tapi tidak bisa digunakan karena tidak ada SDM. Dalam situasi darurat, waktu adalah segalanya. Tanpa operator chamber, penyelam hanya berpacu dengan nasib,” ungkap seorang penyelam profesional Maratua.
Menurutnya, penyakit dekompresi dapat menyerang secara tiba-tiba, bahkan beberapa jam setelah penyelam naik ke permukaan.
Tanpa penanganan chamber yang cepat, gelembung nitrogen dalam darah dapat menyebabkan kelumpuhan, gangguan pernapasan, hingga kematian.
Para penyelam mengingatkan bahwa laut Maratua bukan wilayah bebas risiko. Dalam perjalanan panjang wisata selam di kawasan ini, pernah terjadi insiden serius yang menimpa penyelam akibat gangguan dekompresi.
Keterlambatan penanganan kala itu menjadi pelajaran pahit yang tidak seharusnya terulang.














