Wisata

Penyu Bukan Satu-Satunya Daya Tarik, BABADA Dinilai Penentu Masa Depan Pariwisata Berau

Avatar
4
×

Penyu Bukan Satu-Satunya Daya Tarik, BABADA Dinilai Penentu Masa Depan Pariwisata Berau

Sebarkan artikel ini

Penyu Bukan Satu-Satunya Daya Tarik, BABADA Dinilai Penentu Masa Depan Pariwisata Berau

 

Pariwisata berbasis sungai, hutan, dan alam pedalaman seharusnya menonjolkan identitas Dayak secara utuh, bukan sekadar simbolik, tetapi menjadi pengalaman budaya yang hidup dan terhormat.

 

Di kawasan pesisir dan kepulauan, identitas Bajau menjadi ruh utama. Budaya maritim, tradisi hidup di laut, seni musik, tarian, hingga pola arsitektur pesisir Bajau adalah kekuatan besar pariwisata bahari Berau. Ketika wisatawan datang ke Derawan, Maratua, Kaniungan, Kakaban, dan Sangalaki, yang seharusnya mereka rasakan bukan hanya birunya laut, tetapi juga kuatnya identitas Bajau sebagai penjaga peradaban pesisir.

 

Identitas inilah yang harus dimunculkan secara konsisten. Wisatawan harus mampu mengenali bahwa mereka berada di Berau, bukan di destinasi lain seperti Maldives, Bali, atau Lombok. Tanpa identitas budaya yang jelas, pariwisata akan kehilangan nilai pembeda dan hanya menjadi komoditas visual semata.

 

Untuk mewujudkan itu, dibutuhkan keberanian regulasi. Pemerintah daerah bersama DPRD Kabupaten Berau harus menghadirkan kebijakan yang mengatur integrasi seni dan budaya dalam sektor pariwisata.

 

Regulasi tersebut dapat mengatur kewajiban penampilan seni budaya lokal secara berkala, penataan ornamen dan arsitektur berbasis identitas Babada, hingga pelibatan seniman dan komunitas adat sebagai aktor utama pariwisata.

 

Lebih jauh, identitas budaya tidak akan hidup tanpa dukungan sarana dan prasarana yang memadai. Akses internet di pulau-pulau terluar masih belum maksimal, fasilitas umum belum terawat secara optimal, dan pelayanan dasar belum sepenuhnya mendukung aktivitas pariwisata modern.

Tinggalkan Balasan