Pekanbaru (LA) – Pembangunan daerah di Kota Pekanbaru menunjukkan kemajuan yang signifikan, terbukti dengan pencapaian Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) tahun 2025 sebesar 4.24. Angka tersebut menempatkan kota ini dalam kategori peringkat tertinggi, melampaui rata-rata nasional yang tercatat 3,50 serta skor Provinsi Riau sebesar 3,40.
Penyerahan sertifikat apresiasi dilakukan oleh Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria, yang ditemani Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya. Menerima penghargaan tersebut atas nama Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho adalah Kepala Balai Riset dan Inovasi Daerah (Balitbang) Pekanbaru Alek Kurniawan, dalam acara yang berlangsung di Jakarta pada hari Selasa, 24 Februari 2026.
Menurut Alek Kurniawan, pencapaian ini merupakan hasil dari konsistensi upaya pembangunan yang dilakukan selama beberapa tahun terakhir, dengan data teknis menunjukkan peningkatan skor IDSD yang progresif.
“Alhamdulillah, Kota Pekanbaru berhasil meraih sertifikat apresiasi dengan skor IDSD 4.24, yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional 3,50 dan provinsi Riau 3,40,” ujarnya.

IDSD tahun 2025 sebagai perhitungan terbaru memberikan gambaran terkini mengenai kapasitas dan kinerja daya saing daerah, sekaligus menjadi acuan utama untuk memperkuat peran daerah sebagai penggerak daya saing nasional yang produktif dan inklusif.
Dalam acara peluncuran IDSD 2025 di Jakarta, Arif Satria menjelaskan bahwa indeks ini dirancang agar mudah dipahami dan dapat digunakan untuk meningkatkan daya saing setiap daerah, yang pada akhirnya akan berdampak pada peningkatan daya saing nasional.
“Salah satu tugas BRIN adalah melakukan pengukuran indeks untuk berbagai aspek pembangunan, itulah sebabnya kami melakukan upaya pengukuran ini,” katanya.
Arif juga menegaskan bahwa indeks ini bukan hanya sebagai sarana untuk menunjukkan prestasi, melainkan juga sebagai dasar untuk meningkatkan kapasitas daerah agar dapat melakukan intervensi yang tepat pada setiap bidang pembangunan. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi sangat bergantung pada empat pilar utama: riset dan pengembangan (R&D), inovasi, kewirausahaan, serta modal manusia.
Saat ini, lanjut Arif, umat manusia dihadapkan pada dinamika perubahan yang sangat cepat, di mana perkembangan teknologi berjalan lebih cepat daripada perubahan pada tingkat individu, perubahan individu lebih cepat daripada transformasi bisnis, dan perubahan bisnis lebih cepat daripada penyusunan kebijakan publik. Oleh karena itu, hal ini menjadi tantangan yang harus dihadapi dengan strategi yang matang agar Indonesia dapat memanfaatkan berbagai kesempatan yang muncul dari kecepatan perubahan tersebut.














