Siak

Mandi Belimau di Tepian Sungai Siak, Ratusan Warga Sambut Ramadan dengan Tradisi Turun-Temurun

Nisa Mahira
9
×

Mandi Belimau di Tepian Sungai Siak, Ratusan Warga Sambut Ramadan dengan Tradisi Turun-Temurun

Sebarkan artikel ini

SIAK (LA) – Ratusan warga Siak tumpah ruah di Tepian Bandar Sungai Jantan, Rabu (18/2/2026) sore, mengikuti tradisi Mandi Belimau atau Mandi Balimau sebagai rangkaian Petang Megang menyambut bulan suci Ramadan 1447 H.

Dengan mengenakan pakaian khas Melayu, masyarakat dari berbagai kalangan bergantian menyiramkan air yang telah dicampur dengan wewangian—yang dikenal sebagai air limau atau air pecung—sebagai simbol penyucian diri menjelang datangnya bulan penuh berkah.

Tradisi turun-temurun masyarakat Melayu Siak ini bukan sekadar ritual mandi. Ia menjadi momen untuk ziarah kubur, introspeksi diri, mempererat kebersamaan, serta berbagi kebahagiaan dengan anak yatim.

Penyucian Diri di Tengah Arus Modernisasi

Bupati Siak, Afni Zulkifli, yang hadir langsung di lokasi, mengakui bahwa tradisi ini sempat tergerus perkembangan zaman. Namun, pemerintah daerah terus berupaya menghidupkannya kembali sebagai warisan budaya yang tak ternilai.

“Petang Belimau dikenal sebagai salah satu warisan budaya masyarakat Melayu yang sarat makna. Tradisi ini menjadi simbol pembersihan lahir dan batin, sekaligus ajang mempererat silaturahmi dan solidaritas sosial menjelang Ramadan,” ujar Afni di sela-sela acara.

Ia menjelaskan, sebelum mandi belimau, masyarakat Melayu Siak biasanya melakukan ziarah kubur ke makam orang tua dan keluarga yang telah mendahului, sebagai bentuk penghormatan dan doa.

Ziarah ke Makam Sultan, Lestarikan Sejarah

Sebelum membaur dengan warga di tepian sungai, Bupati Afni bersama jajaran Forkopimda Kabupaten Siak melaksanakan ziarah dan doa bersama di makam para Sultan Siak. Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa menyambut Ramadan juga berarti menghormati leluhur dan sejarah.

Penulis: Nisa M Zendrato

Tinggalkan Balasan