PANGKALAN KERINCI (LA) – Tenun bukan sekadar kain bagi masyarakat Melayu, tetapi warisan budaya yang sarat makna dan filosofi. Di Pelalawan, Kelompok Usaha Rumah Tenun Pulau Payung hadir sebagai upaya pelestarian tradisi sekaligus penggerak ekonomi lokal, dengan dukungan Program Community Development (CD) PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP).
Kisah Penggerak: Yulhendra (Ira)
Sebelumnya seorang guru, Ira memutuskan fokus mengembangkan Rumah Tenun Pulau Payung sejak 2024. “Awalnya ingin lestarikan tenun Melayu yang mulai langka, sekaligus memberdayakan masyarakat. Alhamdulillah, niat ini didukung penuh CD RAPP,” ungkapnya.
Dukungan Berkelanjutan dari CD RAPP
· Peralatan: Penyediaan 5 unit Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) – 3 dari RAPP, 2 dari Pemda Pelalawan
· Pelatihan: Pelatihan intensif selama 3 minggu bekerja sama dengan Rumah Tenun Wan Fitri Pekanbaru
· Pendampingan: Teknisi rutin, pemeliharaan alat, dan kelas peningkatan keterampilan
· Promosi: Fasilitasi partisipasi dalam pameran, termasuk raih runner-up stan UMKM terbaik pada Pelalawan 2025
Produk dan Pemasaran
Kelompok ini memproduksi tiga jenis kain:
1. Kain atasan (blazer/blouse): Rp750.000 per potong
2. Kain samping/bawahan: Rp900.000 per lembar (2,5 meter)
3. Selendang: Rp300.000 per lembar
Saat ini, setiap anggota mampu menghasilkan 7–8 lembar kain per bulan, dengan motif dominan khas Melayu seperti pucuk rebung dan tampuk manggis.
Komitmen dan Harapan
Head of CD RAPP, Ferdinand Leohansen Simatupang, menekankan pentingnya konsistensi dan jejaring pasar.














