Nasional

Indonesia Bergabung dalam Dewan Perdamaian Bentukan Trump

Dela Darmayanti
20
×

Indonesia Bergabung dalam Dewan Perdamaian Bentukan Trump

Sebarkan artikel ini
Momen Presiden Indonesia, Prabowo Subianto (kanan) dan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (kiri) saat menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) perdamaian di Sharm El-Sheikh, Mesir, Senin 13 Oktober 2025 (Foto: BPMI Setpres)

Ketergantungan Penuh pada Trump Dinilai Berisiko

Radityo juga menilai struktur organisasi dan mekanisme kerja dewan hingga kini masih belum jelas. Ia menyebut, hampir seluruh keputusan terlihat sangat bergantung pada Trump sebagai ketua dewan.

“Kalau kita lihat model organisasi sampai detik ini kan masih belum jelas ya… tapi dari dokumen yang kita baca, itu semua tergantung dengan Trump,” ujarnya.

Menurutnya, sejumlah negara mayoritas muslim yang tergabung mungkin berharap Amerika Serikat tetap terlibat aktif, karena tanpa peran Washington, penyelesaian konflik Gaza dinilai sulit diwujudkan secara nyata.

Dilema Indonesia: Masuk Berisiko, Tidak Masuk Kehilangan Suara

Radityo menilai keputusan Indonesia untuk bergabung berada dalam posisi dilematis. Di satu sisi, tidak bergabung dapat membuat Indonesia kehilangan ruang dan pengaruh dalam proses pengambilan keputusan. Namun, bergabung juga membawa risiko citra politik.

“Resikonya kalau bergabung adalah kita dianggap akan mendukung apapun kebijakan Amerika Serikat. Tapi kalau kita tidak bergabung, kita kehilangan suara,” ucapnya.

Ia menambahkan, Indonesia tidak tergabung sebagai anggota permanen karena faktor biaya besar, tetapi tetap perlu menjaga posisi strategis agar tidak hanya menjadi pelengkap.

Indonesia Diminta Tetap Kritis dan Bela Palestina

Radityo menegaskan, langkah paling penting bagi Indonesia adalah tetap bersikap kritis di dalam dewan tersebut, guna memastikan arah kebijakan tidak menyimpang dari tujuan perdamaian yang sesungguhnya. Kepentingan rakyat Palestina, menurutnya, harus terus menjadi fokus utama.

Tinggalkan Balasan