Hukrim

Tragedi Maut di Duri: Keluarga Korban Endus Sindikat Pencurian Tiang Wi-Fi, Diduga Libatkan “Orang Dalam” Telkom

Rifky Rizal
7
×

Tragedi Maut di Duri: Keluarga Korban Endus Sindikat Pencurian Tiang Wi-Fi, Diduga Libatkan “Orang Dalam” Telkom

Sebarkan artikel ini
Pencurian Tiang Wifi
Foto Lokasi TKP

PEKANBARU (LA) – Kematian Deni Mardiansyah (warga Jalan Pesisir, Kecamatan Rumbai, Kota Pekanbaru) yang tewas tersengat arus listrik tegangan tinggi di daerah Duri, Kabupaten Bengkalis, pada 18 Januari 2026 lalu, kian menyisakan tanda tanya besar. Genap 24 hari berlalu, pihak keluarga kini tidak hanya menduga adanya pembiaran yang berujung maut, tetapi juga mencium indikasi kuat adanya sindikat pencurian tiang Wi-Fi yang terorganisir.

Kecurigaan ini bukan tanpa alasan. Istri almarhum mengungkapkan fakta mengejutkan terkait riwayat pekerjaan sang suami bersama H-L, sosok yang menjemput dan membawa Deni pada malam nahas tersebut.

Berawal dari Tawaran Mengecat Tiang

Menurut penuturan istri korban, Beberapa waktu yang lalu sebelum insiden maut yang merenggut nyawa suaminya, Deni sudah pernah diajak bekerja oleh H-L dengan dalih mendapat “pesanan dari orang Telkom” untuk mengecat tiang-tiang Wi-Fi.

Namun, fakta di lapangan pada hari kejadian justru bertolak belakang. Deni dan rekan-rekannya ternyata tidak sedang memasang atau mengecat tiang, melainkan mendapatkan pekerjaan mencabut (mengambil) tiang-tiang Wi-Fi yang berujung pada insiden tersengat listrik. Berdasarkan informasi total ada 12 batang tiang yang sudah mereka cabut hari itu.

“Suami saya sebelumnya pernah diajak kerja mengecat tiang Wi-Fi, Tapi itu sudah lama, dan katanya itu pesanan dari orang Telkom. Tapi saat pasca kejadian kemarin suami saya ternyata bekerja mencabut tiang wifi,” ungkap istri almarhum dengan nada kecewa.

Dari kejanggalan inilah, pihak keluarga menduga kuat adanya sindikat pencurian tiang Wi-Fi yang bermain mata dengan oknum di internal penyedia layanan internet tersebut.

Logika sederhananya, pihak luar tidak akan berani dan mengetahui secara pasti titik-titik tiang Wi-Fi mana saja di jalanan yang sudah tidak aktif atau tidak digunakan lagi, jika bukan karena adanya bocoran informasi dari “orang dalam”.

Kronologi Maut dan Upaya Menghilangkan Jejak

Tragedi ini bermula pada Sabtu (17/1/2026) pukul 23.30 WIB, ketika Deni pamit bekerja bersama H-L. Keesokan harinya, Deni sempat beberapa kali menghubungi keluarga untuk meminta uang bensin dan minuman, seraya menyebut posisinya sedang berada di Duri bersama H-L, Y-A, dan M-T menggunakan mobil pikap. Itu adalah komunikasi terakhirnya sebelum nomornya tidak lagi aktif.

Sore harinya, sekitar pukul 17.00 WIB, Deni justru dipulangkan ke rumahnya di Pekanbaru menggunakan ambulans dalam keadaan sudah tidak bernyawa.
Kakak ipar korban yang langsung mencari H-L mendapati keterangan yang simpang siur. H-L berdalih Deni dan M-T tersengat listrik saat mencabut tiang, sementara dirinya sedang membeli minum. Namun, kebohongan perlahan terbongkar setelah keluarga mengorek keterangan dari M-T, saksi kunci yang juga mengalami luka parah.

M-T membeberkan bahwa saat mereka tersengat listrik dan pingsan, H-L dan rekan lainnya (Y-A) tidak langsung melarikan korban ke rumah sakit. Mereka diduga kuat mengutamakan penjualan belasan tiang Wi-Fi hasil cabutan tersebut untuk menghilangkan barang bukti, baru kemudian mencari pertolongan medis.

“Menurut M-T, saat di bak pikap ia sempat sadar dan melihat suami saya (Deni) masih mengeluarkan air mata dan badannya masih hangat. Akibat sangat lambatnya pertolongan medis, suami saya akhirnya meninggal dunia,” jelas sang istri lirih.

Tuntutan Investigasi Menyeluruh

Kini, istri almarhum harus menjadi orang tua tunggal bagi anak mereka yang baru berusia 1,6 tahun. Tidak adanya iktikad baik maupun upaya perdamaian dari pihak H-L membuat keluarga semakin yakin ada pihak-pihak berlindung di balik insiden ini.

Melalui rilis ini, pihak keluarga mendesak aparat kepolisian untuk tidak hanya mengusut kasus ini sebagai kecelakaan kerja atau kelalaian semata, melainkan membongkar tuntas dugaan sindikat pencurian aset negara/perusahaan.

Mereka juga secara tegas meminta pihak Telkom untuk turun tangan memberikan klarifikasi dan melakukan audit internal terhadap potensi keterlibatan oknumnya yang membocorkan data tiang tidak terpakai kepada sindikat pencurian di lapangan.

“Kami berharap kejadian ini tidak terulang kembali dan tidak ada lagi oknum yang mengorbankan nyawa pekerja lapangan demi keuntungan sepihak,” tutupnya. (RR21) 

Tinggalkan Balasan