Kabupaten Berau, Kalimantan Timur (L.A) – Progres pembangunan rumah di sejumlah wilayah Kabupaten Berau mengalami stagnasi. Kendala utama yang dihadapi masyarakat adalah kelangkaan material tanah, yang menjadi kebutuhan mutlak untuk penimbunan lahan di kawasan dengan kondisi geografis rawa.
Wilayah permukiman yang berada di dataran rendah memang menuntut proses penimbunan sebagai tahap awal sebelum pembangunan dapat dilakukan.
Tanpa penimbunan yang memadai, pembangunan rumah dinilai berisiko dan tidak memungkinkan untuk dilanjutkan.
Dalam beberapa bulan terakhir, warga mengeluhkan sulitnya memperoleh tanah timbunan, terutama dari sisi ketersediaan material di lapangan.
“Progres pembangunan terpaksa berhenti. Lahan kami rawa, tidak mungkin langsung dibangun tanpa penimbunan,” ungkap salah seorang warga saat ditemui di lokasi, Kamis (5/2/2026).
Menurut warga, sebelumnya tanah urug masih dapat diperoleh dari sejumlah titik galian yang beroperasi. Namun, aktivitas galian tanah urug tersebut telah terhenti sejak sekitar satu bulan terakhir.
Sejumlah warga juga mengaku telah menyiapkan anggaran pembangunan rumah. Namun rencana tersebut terpaksa ditunda karena material tanah timbunan saat ini sulit diperoleh.
Sebelumnya, aktivitas galian C berupa tanah urug sempat berlangsung di beberapa titik. Namun hingga kini, belum diketahui secara pasti penyebab berhentinya kegiatan galian tersebut.
Faktanya, saat ini tidak ada satu pun aktivitas galian tanah urug yang beroperasi dan secara khusus ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pembangunan rumah warga.













