JAKARTA, (LA) — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan optimistis Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan melanjutkan tren penguatan pada tahun ini. Keyakinan itu didasari penilaiannya terhadap kondisi ekonomi domestik yang dinilai semakin solid.
Saat ditemui di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Purbaya menilai pembukaan IHSG yang menguat mencerminkan adanya sentimen positif dari pelaku pasar terhadap prospek ekonomi ke depan.
Menurutnya, salah satu faktor pendorong adalah kebijakan fiskal pemerintah yang kian selaras dengan kebijakan moneter Bank Indonesia, sehingga memberi ruang pertumbuhan ekonomi lebih cepat. Ia bahkan menilai dunia usaha yang membaik seharusnya sejalan dengan pergerakan saham.
Dalam pernyataan jelang tutup tahun sebelumnya, Purbaya juga menyampaikan optimismenya bahwa pertumbuhan ekonomi 2025 bisa mencapai target 5,2 persen, sementara untuk triwulan IV 2025 diperkirakan berada di sekitar 5,5 persen.
OJK: Pasar Modal Masih Bisa “Naik Kelas”
Sementara itu, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar menyebut kinerja pasar modal nasional masih memiliki ruang penguatan.
Ia menyoroti Indeks LQ45—yang berisi saham-saham unggulan dan kerap jadi rujukan investor institusi—namun pertumbuhannya disebut baru 2,41 persen, masih tertinggal dari kenaikan IHSG.
Mahendra juga mengangkat isu kontribusi pasar saham terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Menurutnya, kontribusi pasar saham terhadap PDB memang melonjak signifikan (disebut naik 72 persen dibanding kenaikan 56 persen pada akhir 2024), tetapi tetap lebih rendah dibanding sejumlah negara kawasan. Sebagai perbandingan, ia menyebut kontribusi pasar saham terhadap PDB di India sekitar 140 persen, Thailand 101 persen, dan Malaysia 97 persen.
Investor Ritel Makin Dominan, Perlindungan Harus Dikuatkan
Di sisi lain, Mahendra menilai peningkatan partisipasi investor ritel di Indonesia menjadi catatan penting. Porsi transaksi investor ritel disebut naik dari 38 persen pada akhir 2024 menjadi 50 persen berdasarkan data terakhir 2025.
Karena itu, ia menekankan aspek perlindungan konsumen, terutama investor ritel, perlu diperkuat untuk mencegah potensi praktik transaksi tidak wajar, dugaan “goreng saham”, atau bentuk manipulasi lain yang bisa merugikan investor.
Dengan optimisme pemerintah terhadap ekonomi dan pasar, serta perhatian OJK pada perlindungan investor, arah pasar modal tahun ini diproyeksikan tetap dinamis—namun tetap menuntut tata kelola dan pengawasan yang makin kuat.














