JAKARTA (LA) – Kasus campak di Indonesia tidak hanya menyerang anak-anak, tetapi juga orang dewasa. Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan, dr. Andi Saguni, mengungkapkan bahwa sekitar delapan persen kasus campak tercatat terjadi pada populasi dewasa.
“Secara umum, kalau kita lihat data di Indonesia, sekitar delapan persen kasus campak tercatat terjadi pada orang dewasa,” ujar Andi dalam konferensi pers update campak, Senin (31/3/2026).
Data Kasus Campak 2026:
· Kasus dewasa: 8% dari total kasus
· Kematian total: 10 orang
· Kematian dewasa: 1 orang (usia 25 tahun)
· Kelompok rentan: Balita, anak-anak, dewasa dengan imunitas lemah
Gejala campak pada orang dewasa umumnya tidak berbeda jauh dengan anak-anak, seperti demam, ruam, batuk, dan pilek. Namun, Andi memperingatkan bahwa orang dewasa dengan kondisi kesehatan tertentu seperti imunitas lemah, penderita HIV/AIDS, atau penyakit kronis (diabetes, kanker, hipertensi) berisiko mengalami gejala yang lebih berat.
Terkait rencana vaksinasi, Kemenkes akan mengarahkan program vaksinasi campak bagi tenaga kesehatan menyusul kasus meninggalnya seorang dokter internship di Cianjur akibat tertular campak.
“Anda betul, kita akan mengarah ke sana. Intensitas terpapar campak pada tenaga kesehatan juga menjadi faktor risiko,” jelas Andi.
Kemenkes menegaskan pentingnya imunisasi sebagai langkah pencegahan, dengan pemberian vaksin campak dua kali saat bayi dan booster saat kelas 1 SD untuk memberikan perlindungan optimal. (Nca)













