NasionalWisata

BULTIYA International Roadshow Angkat Budaya Kaltara ke Panggung Dunia

Avatar
90
×

BULTIYA International Roadshow Angkat Budaya Kaltara ke Panggung Dunia

Sebarkan artikel ini

BULTIYA International Roadshow Angkat Budaya Kaltara ke Panggung Dunia

Bangkok, Thailand (LA) – Upaya melestarikan sekaligus mempromosikan sejarah dan budaya Kalimantan Utara ke kancah internasional kembali dilakukan melalui program BULTIYA International Roadshow atau BIROS.

 

Program ini diinisiasi Yayasan Sejarah dan Budaya Kaltara di bawah kepemimpinan Joko Supriyadi sebagai ketua yayasan.

 

Melalui BIROS, Yayasan Sejarah dan Budaya Kaltara berkomitmen memperkuat hubungan internasional, meningkatkan pemahaman lintas budaya, mempromosikan warisan budaya Indonesia, serta membuka peluang ekonomi berbasis budaya. Roadshow antarnegara ini menjadi langkah strategis mengenalkan kekayaan seni budaya Kaltara kepada dunia.

 

 

BIROS 2025 dijadwalkan berlangsung di Bangkok, Thailand, dalam ajang Indonesia Fair 2025 yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia di Bangkok. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Trade, Tourism, Investment and Cultural Forum yang digelar pada 26 hingga 28 Desember 2025.

 

Dalam perhelatan internasional tersebut, dua budayawan muda Kalimantan Utara, Datu Muhammad Amin dan Samion, akan tampil membawakan seni budaya khas daerah.

 

Penampilan mereka meliputi musik instrumental sampe Dayak Kenyah serta tarian kreasi bernuansa Bulungan. Karya yang dibawakan antara lain Lan E Sape, Wonderful Borneo, Leleng, Datun Julut, Linggeng Belungon, dan Rampak Rebana.

 

Selain perwakilan dari Kalimantan Utara, Indonesia Fair 2025 juga akan menampilkan budayawan dari DKI Jakarta, Dea Ishak, yang membawakan tarian Betawi. Kolaborasi lintas daerah ini diharapkan mampu merepresentasikan keberagaman budaya Indonesia dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika.

 

Program BIROS diharapkan menjadi inspirasi bagi generasi muda bahwa seni dan budaya mampu membawa anak bangsa tampil tidak hanya di tingkat daerah, tetapi juga hingga mancanegara.

 

Melalui panggung internasional, seni budaya tidak hanya ditampilkan, tetapi juga dipraktikkan kembali dan mendapat apresiasi dari masyarakat global.Selain pertunjukan seni, BIROS juga menjadi ajang promosi produk khas Kalimantan Utara.

 

Produk tersebut ditampilkan melalui busana para musisi dan penari, penggunaan alat musik tradisional, pernak pernik perhiasan, hingga lagu lagu daerah. Pada kesempatan ini, turut diperkenalkan batik Bultiya serta cokelat hasil produksi petani lokal Kaltara.

 

Keberhasilan program ini tidak lepas dari dukungan berbagai pihak, di antaranya KBRI Bangkok, Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara, Kapolda Kaltara, PT PKN, PT Abdi Borneo, Bapasak Kaltara, serta seluruh keluarga budayawan dan anggota Yayasan Sejarah dan Budaya Kaltara yang tidak dapat disebutkan satu per satu.

 

Setiap karya yang ditampilkan dalam BIROS memiliki makna mendalam. Lan E Sape yang dimainkan Samion merupakan ajakan untuk berkumpul dan bersukacita, disampaikan melalui petikan sampe tanpa lirik.

Wonderful Borneo menggambarkan keindahan alam Kalimantan melalui irama musik yang menghadirkan suasana hutan, sungai, dan kehidupan satwa, sekaligus pesan pentingnya menjaga kelestarian alam.

 

Lagu Leleng menceritakan kesedihan, kerinduan, serta harapan, namun juga mengandung semangat perlawanan agar tidak larut dalam duka dan tetap bergembira dalam lingkaran persaudaraan. Datun Julut menghadirkan gambaran keanggunan burung enggang sebagai simbol rasa syukur, pesta panen, dan penyambutan tamu istimewa.

 

Sementara itu, Linggeng Belungon yang dibawakan Datu Muhammad Amin menampilkan kelincahan dan keindahan gerak khas Bulungan yang sarat semangat optimisme. Rampak Rebana menggambarkan kegembiraan remaja saat bertemu sahabat baru dan lazim ditampilkan dalam berbagai momen bahagia seperti pernikahan, kelahiran, dan perayaan syukur.

 

Melalui BIROS, seni budaya Kalimantan Utara tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga jembatan diplomasi budaya yang membawa pesan persatuan, keberagaman, dan kebanggaan sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia.***

 

Sumber : Joko Supriadi
Editor : Teguh S.H

Tinggalkan Balasan