Budaya

Menelusuri Jejak Budaya dalam “Karakter Melayu”: Griven H Putera Angkat Nilai Leluhur di Era Modern

64
×

Menelusuri Jejak Budaya dalam “Karakter Melayu”: Griven H Putera Angkat Nilai Leluhur di Era Modern

Sebarkan artikel ini
Karakter Melayu
Sastrawan Riau, Griven H Putra.

PEKANBARU, (LA) Gramedia Sudirman, Sabtu sore (12/4/2025), menjadi saksi hangatnya peluncuran buku terbaru bertajuk Karakter Melayu karya Griven H Putera. Buku setebal 346 halaman ini hadir sebagai sebuah refleksi mendalam atas nilai-nilai budaya Melayu, dikemas dalam 83 tulisan yang ditulis selama periode 2019 hingga 2024.

Kisah dan Karakter: Warisan Budaya dalam Gaya Bertutur

Griven H Putera tidak sekadar menulis buku, namun menyusun mozaik pemikiran budaya lewat opini, esai, dan catatan reflektif yang menyuarakan karakter masyarakat Melayu. “Buku ini bukanlah kumpulan teori, melainkan perjalanan pemikiran saya yang berpusat pada karakteristik orang Melayu,” tutur Griven dalam sesi bincang buku.

Tulisan pembuka, Pelayan, menyentuh filosofi mendalam bahwa melayani bukanlah bentuk kerendahan, tetapi bagian dari kemuliaan manusia. Ia memberi analogi spiritual, “Tuhan saja melayani kita bahkan saat kita tidur,” katanya, mengajak pembaca merenung tentang nilai pengabdian.

Baca juga

Pemprov Riau Dukung Peluncuran Buku “Karakter Melayu” Karya Griven H Putera

Filosofi Lidah dan Kepemimpinan dalam Bingkai Melayu

Dalam esai Lidah Tak Bersarung, Griven mengingatkan pentingnya kendali dalam bertutur. “Lidah harus dibalut oleh ilmu, iman, dan nilai,” ucapnya, menegaskan bahwa tutur kata mencerminkan martabat dalam budaya Melayu yang kini mulai tergerus zaman.

Tiga tulisan lainnya di buku ini menyoroti kepemimpinan dari perspektif budaya. Salah satunya, Tubuh dan Kepemimpinan, menggambarkan metafora kepemimpinan ideal: pemimpin sebagai kepala yang harus peka, bijak, dan tidak menyalahgunakan kekuasaan. Ada pula pembahasan tentang istilah Tuan Junjungan, di mana pemimpin ideal digambarkan sebagai sosok yang menjadi tumpuan sekaligus pelindung dalam kehidupan keluarga dan masyarakat.

Apresiasi dan Harapan: Literasi sebagai Jembatan Budaya

Umi Kulsum, Kepala Balai Bahasa Provinsi Riau, mengapresiasi kehadiran Karakter Melayu sebagai karya yang menghidupkan kembali khasanah lokal. “Gagasan kepemimpinan dalam budaya Melayu yang dituangkan dalam buku ini bisa menjadi model nasional,” ujarnya. Ia juga menyebut buku ini layak dikembangkan ke dalam media lain seperti komik, film, dan novel.

Senada, Mimi Yuliani dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Riau menyebut buku ini sebagai bacaan wajib bagi masyarakat Melayu. “Buku ini menjadi pengingat jati diri. Jangan sampai kita lupa siapa kita sebenarnya,” ucapnya. Ia pun mengundang penulis lain untuk memanfaatkan fasilitas Perpustakaan Soeman HS sebagai ruang terbuka literasi di Riau.

Mengakar dalam Tradisi, Menyapa Masa Depan

Buku ini rencananya akan segera tersedia di toko buku Gramedia setelah proses cetak rampung. “Nama-nama yang hadir dalam peluncuran sudah kami catat untuk pengiriman,” kata Griven.

Ia berharap Karakter Melayu dapat menjadi kontribusi kecil namun bermakna dalam menjaga identitas budaya Melayu di tengah derasnya arus globalisasi. Dengan gaya bahasa yang reflektif dan membumi, buku ini tidak hanya menuturkan nilai, tetapi menjadi ajakan untuk kembali memaknai siapa kita sebenarnya sebagai masyarakat yang menjunjung santun, tanggung jawab, dan kebijaksanaan tutur.

Tinggalkan Balasan