Budaya

City of Love : Perpaduan Sinema dan Teater, Sajikan Drama Cinta dengan Sentuhan Spektakuler

33
×

City of Love : Perpaduan Sinema dan Teater, Sajikan Drama Cinta dengan Sentuhan Spektakuler

Sebarkan artikel ini
City of Love
Musikal Sinematik “CITY OF LOVE” dan digelar bertepatan di bulan kasih sayang tanggal 14, 15 dan 16 Februari 2025 di Plenarry Hall, Jakarta International Convention Center

Jakarta, (LA) – Warisan Budaya Indonesia (WBI) mempersembahkan musikal sinematik “City of Love”, sebuah pertunjukan megah yang digelar di Plenary Hall, Jakarta International Convention Center (JICC) pada 14-16 Februari 2025. Mengusung kisah cinta dramatis, pertunjukan ini menghadirkan kombinasi unik antara seni teater dan sinema, memberikan pengalaman imersif yang belum pernah ada sebelumnya.

Disutradarai oleh Hanung Bramantyo, musikal ini mengisahkan perjalanan cinta Sandya dan Kala, sepasang kekasih yang harus menghadapi berbagai rintangan akibat konflik masa lalu orang tua mereka. Sebuah cerita penuh emosi, drama, dan keindahan visual, yang membawa penonton kembali ke era 1930-1950 dengan tata panggung yang memukau.

baca juga Parade Wastra Riau: Langkah Gemilang Mengangkat Budaya Lokal ke Kancah Internasional

Kolaborasi Spektakuler, Deretan Bintang Berbakat

Hanung Bramantyo tidak sendiri dalam proyek ambisius ini. Ia menggandeng Agus Noor sebagai kolaborator utama, dengan dukungan tim kreatif yang terdiri dari Tohpati sebagai penata musik, Titin Watimena sebagai penulis naskah, dan Taba Sanchabakhtiar sebagai pengarah artistik.

Para pemain yang terlibat pun tidak main-main. Devano, Maesha Kanna, dan Agatha Priscilla tampil sebagai pemeran utama, didukung oleh Marcel, Lukman Sardi, Andien, dan Aming yang menambah warna dalam cerita. Artis senior seperti Widyawati, Niniek L Karim, Marini, dan Yanti Airlangga juga turut berperan, sementara Reza Rahadian hadir sebagai kejutan istimewa di tengah pertunjukan.

Bagi Hanung Bramantyo, musikal ini menjadi momen kembalinya ke dunia teater yang pernah ditekuninya di Yogyakarta.

“Ini adalah drama musikal yang dekat dengan dunia saya, yaitu sinema. Maka lahirlah konsep ‘musikal sinematik’ yang menggabungkan dua medium berbeda,” ujar Hanung seperti yang dilansir dari laman metrotvnews.com.

Panggung Berputar, LED Raksasa, dan Tata Musik Memukau

Salah satu daya tarik utama “City of Love” adalah desain panggungnya yang menggunakan rotater berdiameter 18 meter, menciptakan dinamika visual yang menawan. Didukung oleh enam sisi LED raksasa, setiap adegan terasa semakin hidup, membawa penonton masuk ke dalam alur cerita yang mendalam.

Dari sisi musik, Tohpati merancang komposisi orkestra dengan nuansa pop yang easy listening, membuat setiap lagu menjadi bagian tak terpisahkan dari emosi cerita. Sebanyak 16 lagu dipilih secara khusus untuk memperkuat suasana, termasuk “Cinta”, “Anak Jalanan”, “Bagaikan Langit”, dan “Lagu Cinta”.

“Karena ini kisah perjalanan cinta, lagu-lagu yang dipilih pun menyesuaikan dengan nuansa romantis yang ingin dihadirkan,” jelas Tohpati.

Konsep Instagramable: Couple Seat hingga Instalasi Artistik

Tak hanya menyajikan pertunjukan berkualitas, “City of Love” juga menawarkan pengalaman visual dan atmosfer yang memanjakan penonton.

  1. Couple Seat “Romeo & Juliet” – Kursi khusus bagi pasangan yang ingin merayakan Hari Kasih Sayang dengan suasana lebih intim.
  2. Instalasi Instagramable – Mulai dari area ruang tunggu yang dihias dengan tema klasik, pernak-pernik busana era 1930-an, hingga detail tata panggung yang menawan.

Dengan konsep ini, tak heran jika tiket hampir terjual habis sejak hari pertama pertunjukan.

Misi Warisan Budaya Indonesia: Menghidupkan Panggung Seni

Musikal ini diproduksi oleh Warisan Budaya Indonesia Foundation, yayasan yang dikenal berkomitmen pada pelestarian dan pengembangan budaya Indonesia. Yanti Airlangga, selaku ketua, berharap pertunjukan ini menjadi terobosan baru dalam dunia drama musikal, yang tidak hanya menghibur tetapi juga memperkenalkan nilai seni kepada generasi muda.

“Kami ingin panggung seni semakin hidup dan diminati oleh lebih banyak orang, terutama anak muda. Semoga ‘City of Love’ menjadi awal dari lebih banyak karya spektakuler lainnya,” ujar Yanti.

“City of Love” bukan sekadar pertunjukan, tetapi perayaan seni yang menyatukan sinema, teater, dan musik dalam satu panggung megah. Sebuah pengalaman yang sulit dilupakan!

Tinggalkan Balasan