Berita

Tradisi Malam Tujuh Likur: LAMR Riau Lestarikan Warisan Budaya Melayu

23
×

Tradisi Malam Tujuh Likur: LAMR Riau Lestarikan Warisan Budaya Melayu

Sebarkan artikel ini
Ketua Umum Majelis Kerapatan Adat (MKA) LAMR, Datuk Seri H. Marjohan Yusuf.

Pekanbaru, (LA) – Tradisi Malam Tujuh Likur tetap terjaga, diiringi semangat kebersamaan masyarakat Melayu.

1. Prosesi Penuh Makna di Tengah Hujan

Hujan tak menyurutkan langkah Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Provinsi Riau dalam melaksanakan tradisi malam tujuh likur, tepat sepekan menjelang penghujung Ramadan. Ketua Umum Majelis Kerapatan Adat (MKA) LAMR, Datuk Seri H. Marjohan Yusuf, memimpin prosesi dengan menyalakan lampu pelita atau colok, simbol cahaya harapan yang menerangi malam Ramadan.

Ditemani shalawat nabi yang dilantunkan, prosesi semakin khidmat. Ketua Umum Dewan Pimpinan Harian (DPH) LAMR, Datuk Seri Taufik Ikram Jamil, bersama sejumlah tokoh masyarakat, Forkopimda, serta para Puan LAMR turut hadir, menjadikan suasana penuh nostalgia budaya Melayu.

2. Tradisi dan Kenangan Masa Kecil

Kembang api yang dinyalakan oleh para Puan LAMR semakin memperindah malam. Puan Dina, salah satu peserta, mengenang masa kecilnya.

“Tradisi ini membawa kita kembali ke kenangan masa kecil. Di kampung-kampung, menyalakan lampu pelita dan bermain kembang api adalah ritual yang tak pernah dilewatkan,” ujarnya dengan penuh haru.

3. Perhelatan Islami dengan Nilai Budaya Melayu

Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian acara buka puasa bersama yang digelar LAMR Riau di Balai Adat, Jalan Diponegoro, Pekanbaru. Perhelatan dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Quran oleh Qori Abdul Rahman Atan dan dilanjutkan dengan ceramah agama oleh Ketua Harian MUI Riau, Ustadz H. M. Zulhusni Domo, gelar Datuk Bagindo Sati.

Dalam sambutannya, Datuk Seri Taufik Ikram Jamil menekankan bahwa tradisi malam tujuh likur merupakan wujud syukur masyarakat Melayu. “Malam tujuh likur mengingatkan kita pada tradisi menyalakan lampu pelita di setiap rumah, yang berlanjut hingga akhir Ramadan, menyimbolkan kehadiran Lailatul Qadar,” jelasnya.

4. Islam sebagai Ruh Budaya Melayu

Datuk Seri Taufik juga menegaskan bahwa Islam adalah inti dari budaya Melayu. “Adat-istiadat Melayu tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Bahkan, masuk Islam kerap disebut masuk Melayu di kawasan ini,” katanya.

5. Penutup yang Khusyuk dan Bermakna

Acara diakhiri dengan penyalaan lampu colok dan salat tarawih bersama di Musholla As-Salam, LAMR Provinsi Riau. Perpaduan antara nilai-nilai Islam dan adat Melayu ini menjadi bukti nyata bagaimana masyarakat Melayu Riau melestarikan budaya dan tradisinya dengan penuh kesungguhan.

Melalui tradisi malam tujuh likur, LAMR Riau tidak hanya menjaga warisan budaya tetapi juga menyatukan masyarakat dalam kebersamaan dan kekhidmatan bulan suci Ramadan.

Tinggalkan Balasan