Buru, LiterasiAktual.com – Jelang HUT Kemerdekaan RI yang Ke-79 tahun 2024, Pemerintah Kecamatan Waplau Kabupaten Buru menggelar prosesi pengambilan dan penyerahan bendera pusaka merah putih di Desa Waprea, Rabu, (14/8/2024).
Prosesi pengambilan dan penyerahan bendera pusaka ini dilakukan 3 (tiga) hari sebelum upacara 17 Agustus dilakukan yaitu pada tanggal 14 Agustus 2024 di desa Waprea.
Pengambilan bendera pusaka merah putih itu dilakukan oleh Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) Kecamatan Waplau di Kantor Desa Waprea. Bendera pusaka merah putih diserahkan oleh Tokoh Adat Desa Waprea Bapak Mahmud Kalidupa kepada Penjabat Kepala Desa Waprea Muhammad Warhangan lalu diteruskan penyerahannya kepada Pasukan Pengibar Bendera.
Bendera pusaka merah putih setelah diserahkan oleh pemerintah Desa Waprea dan diterima oleh Paskibra Kecamatan, kemudian diserahkan kembali kepada Pemerintah Kecamatan yang diterima langsung oleh Camat Waplau Bapak Abdul Hamid Buton yang kemudian langsung dibawah ke Kecamatan. Penyerahan itu dilakukan di tempat yang berbeda yaitu tepat dilokasi Air Terjun Merah Putih Desa Waprea.
Penjabat Kepala Desa Waprea Muhammad Warhangan kepada Wartawan menyampaikan bahwa prosesi pengambilan dan penyerahan bendera pusaka merah putih itu bukan sekedar acara ceremony semata, akan tetapi dibalik itu terdapat kandungan makna sejarah di dalamnya, baik benderanya ataupun tempat penyerahannya yaitu di Desa Waprea.
“mungkin tidak seperti daerah lain dalam menyongsong hari kemerdekaan, kita di Kecamatan Waplau mempunyai cara sendiri, yaitu sebelum upacara tanggal 17 Agustus, pemerintah Kecamatan Waplau mengadakan prosesi pengambilan dan penyerahan bendera merah putih di Desa Waprea, kenapa itu dilakukan dan kenapa harus di Desa Waprea, karena semua itu adalah bentuk pemaknaan sejarah yang pernah terjadi di Desa Waprea, yang berkenaan dengan bendera merah putih serta tempat yang menjadi saksi sejarah,” Tegas Warhangan kepada Awak media.
Lanjut Kades Waprea menyampaikan bahwa desa Waprea ini memiliki sejarah yang luar biasa, berkenaan dengan kedatangan bendera pusaka merah putih sejak tahun 1946 di desa Waprea, satu tahun pasca Negara Indonesia di Plokmirkan. Kemudian dilanjutkan pada tahun 50’an terjadinya sebuah kejadian luar biasa di desa Waprea, yaitu penyerangan kelompok separatis Republik Maluku Selatan (RMS), pembentukan Pemuda Merah Putih di Desa Waprea untuk menjaga pertahanan dan mempertahankan NKRI. Penyerangan itu menelan banyak korban, namun di saat itu bendera merah putih terselamatkan dan masih ada sampai saat ini.
Camat Waplau Abdul Hamid Buton dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan pengambilan dan penyerahan bendera ini adalah sebagai bentuk mengenang sejarah yang pernah terjadi. Dimana pada tahun 1950, berkumpulnya pemuda-pemuda Buru di Desa Waprea untuk menentang pergerakan separatis yang disebut RMS.
“ini adalah cerita sejarah yang sampai saat ini masih terjaga, bahwa pada tahun 1950 pernah terjadi penyerangan kelompok separatis RMS di Desa Waprea, lalu terbentuknya pemuda merah putih yang berkumpul di Desa Waprea untuk menentang kelompok separatis ini, dan pada saat itu Desa Waprea ini hancur terbakar, namun anugrahnya bendera merah putih yang telah ada sejak tahun 1946 ini selamat dan masih ada sampai saat ini,”
Dalam kesempatan yang sama, Camat juga menghimbau kepada seluruh masyarakat, agar nantinya masyarakat dapat ikut serta hadir mengikuti upacara 17 Agustus memperingati hari kemerdekaan yang akan digelar di Lapangan Desa Waplau Kecamatan Waplau.
“Atas nama pribadi dan pemerintah Kecamatan, saya mengajak seluruh masyarakat agar dapat hadir dalam upacara 17 Agustus yang terhitung hari lagi akan dilaksanakan,”
Dalam prosesi itu, turut hadir beberapa kepala Desa mendampingi Camat Waplau diantaranya Arya Utoyo (Kepala Desa Lamahang), Noni Paplia (Kepala Desa Waeura), Abu Saleh Warhangan (Kepala Desa Namsina) Untung Ahmad Hiku (Kepala Desa Hatawano). Selain itu turut hadir juga Kapolsek Kecamatan Waplau, Babinsa dan Bhabinkamtibmas desa Waprea, Kepala Puskesmas Kecamatan Waplau, Tokoh pendidikan, tokoh adat, serta beberapa tokoh masyarakat lainnya.
Selain itu, kepala Desa Waprea Muhammad Warhangan juga melibatkan siswa-siswi SD dan SMP yang ada di Desa Waprea untuk terlibat menyaksikan secara langsung prosesi itu.













